Data Museum
Museum Amerta Dirgantara Mandala Lanud Suryadarma
Kalijati BaratGedung Museum Amerta Dirgantara Mandala Lanud Suryadarma merupakan Gedung peninggalan Belanda yang dibangun pada tahun 1917. Museum ini awalnya dibangun karena hobi dan pengetahuan yang dimiliki oleh Marsda TNI Ramli Sumardi terhadap pesawat-pesawat tua, kemudian muncul ide untuk melakukan perbaikan terhadap pesawat-pesawat yang sudah tua, dan kemudian dibangunlah living museum untuk menampung pesawat-pesawat tersebut.
Museum Bio Farma
Jl. Pasteur No. 28Museum Bio Farma merupakan museum khusus yang diresmikan pada 17 Desember 2015 di kawasan bangunan bersejarah Bio Farma. Museum ini menceritakan tentang penemuan kesehatan, wabah yang terjadi sebelum vaksin ditemukan, serta peralatan yang digunakan sebelum Bio Farma ada.
Museum Galuh Pakuan
Jl. K.H. Ahmad DahlanMuseum Galuh Pakuan merupakan museum khusus yang dibangun untuk menjaga dan meneruskan semangat dari Kerajaan Galuh di Jawa Barat. Museum ini berisikan peninggalan-peninggalan dari Kerajaan Galuh, seperti pusaka dan dokumen penting.
Museum Gedung Pusaka Keraton Kanoman
Kompleks Kesultanan Kanoman Cirebon, Jl. Merdeka No. 28Museum Gedung Pusaka Keraton Kanoman merupakan museum khusus yang diresmikan dan dibuka untuk umum pada 1997 oleh Sultan Kanoman. Pada awalnya gedung museum digunakan sebagai tempat penyimpanan pusaka yang dimiliki Keraton Kanoman.
Museum Geologi
Jl. Diponegoro No.57Pada 1850 kegiatan survei dan penelitian geologi di Indonesia dilaksanakan oleh "Dienst van het Mijnwezen" lembaga Pemerintah Belanda. Kemudian pada 1922 berganti nama menjadi "Dienst van den Mijnbouw". penelitian geologi semakin meningkat sehingga contoh batuan, mineral, fosil semakin banyak, maka pada 1928 dibangun gedung yang diperuntukkan bagi Laboratorium dan Museum Geologi yang bertempat di Rembrandt Straat Bandung, Pada masa pendudukan Jepang, lembaga tersebut diubah menjadi Chishitu Choosasho yang merupakan bagian dari Laboratorium Paleontologi dan Kimia. Setelah Indonesia merdeka, pengelolaan Museum Geologi berada di bawah Pusat Djawatan Tambang dan Geologi. Museum Geologi kemudian menjadi Unit Pelaksana Teknis Museum Geologi di bawah Badan Geologi, Kementrian Energi dan Sumberdaya Mineral berdasarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Nomor 12 Tahun 2013. Museum Geologi diresmikan dan dibuka untuk umum pada 23 Agustus 2000 oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri setelah mengalami renovasi pada beberapa bagiannya.
Museum Prabu Geusan Ulun
Jl. Prabu Geusan Ulun No. 40Museum Prabu Geusan Ulun merupakan museum khusus yang kemunculannya berawal dari terbentuknya Yayasan Pangeran Aria Suria Atmadja (YPSA) pada 1950, kemudian pada 1955 terjadi perubahan nama menjadi Yayasan Pangeran Sumedang (YPS). Yayasan ini bertugas untuk mengurus, memelihara, dan mengelola barang wakaf Kangdjeng Pangeran Aria Soeria Atmadja yang merupakan Bupati Sumedang tahun 1882-1919. Namun pada tahun 2017 para pembina Yayasan mencoba untuk menjalankan amanat yang diikrarkan oleh Pangeran Aria Soeria Atmadja, dan menyebabkan Yayasan terbagi dua dan Museum kini dikelola oleh Yayasan Nazhir Wakaf Pangeran Sumedang. Pada Seminar Sejarah Jawa Barat yang diadakan pada 7-13 Maret 1974 di Sumedang, para sesepuh yayasan dan Wargi Sumedang untuk memberi nama baru untuk museum. Maka pada 13 Maret 1974, secara resmi museum diberi nama Museum Prabu Geusan Ulun.