Data Museum
Museum Jenderal Besar DR. A.H. Nasution
Jl. Teuku Umar No.40, RT.1/RW.1Museum Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution merupakan museum khusus yang diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Ke-7, Susilo Bambang Yudhoyono pada 3 Desember 2008, bertepatan dengan Hari Kelahiran Dr. A. H. Nasution. Museum ini menceritakan mengenai perisiwa terjadinya G30S/PKI yang menewaskan anak A.H. Nasution, Ade Irma Suryani dan ajudan jenderal, Lettu Czi Piere Andreas Tendean, serta upaya penculikan dan pembunuhan Dr. A.H. Nasution yang gagal dilakukan. Rumah tersebut sebelum dijadikan sebagai kediaman Dr. A.H. Nasution merupakan tempat tinggal pegawai Gubernur Jenderal Belanda yang dibangun pada tahun 1923. Pegawai Gubernur Jenderal Belanda yang saat itu menempati merupakan mertua Dr. A.H. Nasution.
Museum Polri
Jl. Trunojoyo 3Museum POLRI merupakan museum khusus yang menjadi salah satu museum dengan konsep experience atau konsep yang memperbolehkan pengunjung untuk mengalami dan merasakan layaknya polisi. Pengunjung dapat menggunakan benda-benda atau alat transportasi yang digunakan oleh polisi. Di museum ini pengunjung dapat melihat sejarah terbentuknya Polisi Republik Indonesia (POLRI). Konsep polisi sudah digunakan pada masa Kerajaan Majapahit yang membentuk Pasukan Bhayangkara Andhika yang bertugas untuk menjaga keamanan kota dan Pasukan Bhayangkara Lelana yang bertugas menjaga keamanan daerah. Di masa VOC juga sudah dikenal konsep polisi yang menggunakan nama kaffers (penjaga penjahat), ratelwatch (penjaga malam), dan landdrost (penjaga luar Batavia).
Museum Prangko Indonesia
Taman Mini Indonesia Indah, Jl. Raya Taman MiniMuseum Prangko merupakan museum khusus yang didirikan pada 29 September 1983 atas gagasan Ibu Tien Soeharto saat acara pameran prangko yang diadakan oleh PT Pos Indonesia pada acara Jambore Pramuka Asia Pasifik Ke IV di Cibubur. Prangko merupakan hal penting dalam memberikan kebanggaan bagi bangsa karena hanya bangsa yang berdaulat dan merdeka yang diperbolehkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menerbitkan prangko. Prangko menjadi salah satu bukti bahwa Indonesia diakui oleh dunia. Museum Prangko dibangun dengan tujuan mengenalkan fungsi dan sejarah prangko serta budaya surat menyurat.
Museum Satriamandala
Jl. Gatot Subroto No.14Museum Satriamandala merupakan museum khusus yang didirikan untuk mengingat sejarah perjuangan Tentara Nasional Indonesia. Museum ini berada di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Museum ini diresmikan pada tahun 1972 oleh Presiden Republik Indonesia Ke-2, Soeharto, di museum ini terdapat beberapa koleksi berupa peralatan perang beberapa masa, mulai dari peralatan kuno hingga yang modern, seperti ranjau, rudal, torpedo, meriam, hingga tank. Selain memamerkan peralatan perang, di museum ini juga terdapat persenjataan berat dan ringan, panji-panji dalam ketentaraan, dan atribut ketentaraan. Selain itu, di museum ini juga terdapat tandu yang digunakan untuk membawa Jendral Sudirman saat sakit dan melakukan Perang Gerilya melawan Belanda pada tahun 1940-an.
Museum Timor Timur
Taman Mini Indonesia Indah, Jl. Raya Taman MiniSemula museum ini merupakan sebuah anjungan yang dibangun pada tahun 1979 dan diresmikan tanggal 20 April 1980 oleh Presiden Soeharto. Setelah Provinsi Timor Timur memisahkan diri dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia, anjungan Timor Timur kemudian menjadi suatu monumen dan menjadi tanggungjawab Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Sebagai monumen, anjungan Timor Timur kemudian berstatus museum di bawah pengelolaan Istana Anak-Anak Indonesia.
Museum Tragedi 12 Mei ’98 Universitas Trisakti
Jl. Kyai Tapa No.1, RT.6/RW.16Museum Tragedi 12 Mei 1998 berdiri sebagai bukti sejarah perjuangan gerakan mahasiswa tahun 1998. Saat itu mahasiswa perguruan tinggi di seluruh Indonesia mengadakan kegiatan unjuk rasa untuk menuntut reformasi. Mahasiswa Universitas Trisakti sebagai bagian dari mahasiswa Indonesia turut serta dalam gerakan aksi damai. Gerakan tersebut mencapai puncaknya ketika adanya larangan untuk menuju gedung MPR/DPR yang berakhir dengan chaos, sehingga menewaskan empat mahasiswa Universitas Trisakti yang semuanya tertembak dengan peluru tajam di dalam area kampus A Universitas Trisakti. Kejadian ini memicu runtuhnya kekuasaan orde baru. Untuk memperingati peristiwa tragedi tersebut maka dibangunlah Museum Tragedi 12 Mei 1998 yang berlokasi di Lobby Gedung Dr. Syarif Thajeb (Gedung M), Kampus A Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta Barat.