museum

Museum Terbuka Megalitik Bondowoso

Jl. Purbakala Dusun Daringan RT/RW 08/03

tes

museum

Museum Batik Tiga Negeri Lasem

Jalan Karangturi IV No. 7, RT 4 RW 2

Museum Batik (Tiga Negeri Lasem) awalnya didirikan pada tahun 2019 atas inisiatif Bapak Rudy Hartono dan Agni Malagina pasca ditemukannya sketsa motif batik karya Johanna Tjoa di rumah peninggalan keluarga Tjoa Lasem yang berpindah kepemilikan kepada Bapak Rudy Hartono pada tahun 2018. Museum BTN awalnya menempati bangunan paviliun Rumah Johanna Tjoa, kemudia berpindah ke bangunan baru menjadi museum dan galeri batik pada tahun 2024. Saat ini pembenahan museum masih berlangsung karena Museum Batik Tiga Negeri Lasem akan menempati bangunan Rumah Utama Johanna Tjoa.

museum

Museum Catur Indonesia

Jalan Raya Siliwangi No. 15, Rawa Panjang

Pendirian Museum Catur Indonesia dilatar belakangi oleh keinginan Yayasan untuk terus mengembangkan dan melestarikan olahraga Catur dalam berbagai aspek, seperti benda koleksi, sejarah Catur hingga prestasi yang telah diraih mengingat tidak adanya keberadaan Museum khusus terkait olahraga Catur di Indonesia.

museum

Museum Jenang dan Gusjigang

Jl. Sunan Muria No. 33 A Kudus

Jenang merupakan makanan khas Kudus yang menurut legendanya tidak lepas dari kisah perjalanan Sunan Kudus dalam menyebarkan syiar Islam di Kabupaten Kudus. Mubarokfood merupakan perusahaan jenang terbesar di Kudus yang berdiri sejak 1910 berawal dari sebuah home industry. Proses pembuatan jenang di Mubarokfood juga mengalami perubahan dari tahun ke tahun menyesuaikan perkembangan teknologi dan juga mengacu pada standart mutu industri makanan. Selain itu, kemasan jenang Mubarokfood juga mengalami metamorfosis yang sangat signifikan. Berlatar belakang sejarah perjalanan panjang tersebut, pada 24 Mei 2017, Direktur Utama Mubarokfood - Bapak H. Muhammad Hilmy, SE, meresmikan Gedung Mubarok Sentra Bisnis dan Budaya (MSBB) yang di dalamnya terdapat Showroom dan Museum Jenang dan Gusjigang. Showroom ini menampilkan produk-produk Mubarokfood dan produk UMKM, produk Ekonomi Kreatif yang ada di Kudus dan daerah lainnya di Jawa Tengah. Sedangkan Museum Jenang dan Gusjigang ini menceritakan tentang sejarah berdirinya Jenang Kudus Mubarok, mulai dari perkembangan generasi ke generasi, gambaran bagaimana cara membuat jenang, perlengkapan yang digunakan dari masa ke masa, maupun jenis kemasan yang digunakan. Museum Jenang ini juga menonjolkan desain bangunan yang memiliki ciri khas menarik berupa visualisasi pembuatan, penyajian hingga pelestarian jenang. Hal ini didukung dengan adanya patung/diorama para pekerja dan alat-alat produksi pembuatan jenang. Seiring dengan berkembangnya ide dan pemikiran pemilik, museum ini tidak stagnan dalam menyuguhkan koleksi dan venue. Selama 8 tahun sejak berdirinya museum ini, koleksi selalu bertambah tentunya lebih mengutamakan pada fungsi dari koleksi yakni sebagai media edukasi. Museum ini juga mengangkat falsafah hidup masyarakat Kudus sebagai local wisdom dan local culture serta ajaran moral kehidupan warisan Sunan Kudus, yaitu Gusjigang yang merupakan akronim dari baGUS akhlaknya (spriritual), pintar ngaJI (intelektual) dan terampil daGANG (entrepreneurship). Pada kurun waktu 2 -3 dekade terakhir, ajaran moral Sunan Kudus ini sudah hampir luntur dan pudar, generasi milenial banyak yang tidak kenal, tidak paham dan tidak mengetahui nilai-nilai luhur tersebut. Sehingga perlu ditanamkan dan dilestarikan melalui Museum Jenang dan Gusjigang ini. Disamping itu juga terdapat koleksi-koleksi utama lainnya yang berhubungan erat dengan sejarah Kota Kudus pada khususnya dan sejarah Indonesia pada umumnya.

museum

Museum Perjalanan Pemilu

Jalan Pulo Mas Barart VI Kav.14-16, Kayu Putih, Pulo Gadung, RT.3/RW.10

Indonesia, yang telah berdiri selama lebih dari Tujuh dekade, telah muncul dan menjadi negara demokrasi terbesar ke 3 di dunia. Negara ini dianggap memiliki konstitusi terbaik yang memungkinkan setiap individu untuk memilih dan menjadi bagian dari pemilihan pemerintah mereka. Lebih dari 200 juta orang memberikan suara dalam pemilihan umum, sehingga prosesnya menjadi sangat rumit dan teliti. Proses pemilihan umum yang langsung, umum, rahasia, bebas, jujur dan adil, Serta transparan dengan intervensi teknologi yang konstan untuk penyelenggaraan pemilihan umum yang efisien dan efektif merupakan ciri khas manajemen pemilihan umum kita. Instrumen demokrasi telah berkembang sejak tahun 1955 ketika Pemilihan Umum pertama kali dilakukan. Ada sejarah demokrasi yang kaya dan bagaimana demokrasi telah ditangani oleh lembaga yang bertransformasi sepanjang perjalanan waktu pemilihan Umum. Namun, tidak ada satu tempat pun di mana koleksi warisan ini, instrumen yang dibutuhkan untuk menjalankan demokrasi dapat disimpan dan dikomunikasikan kepada masyarakat. Museum ini hadir dengan Optimis untuk menyatukan semua artefak terkait pemilu sejak kemerdekaan di bawah satu atap dan menjadikannya interaktif di mana masyarakat umum dapat datang dan memahami bagaimana demokrasi menjadi matang selama bertahun-tahun. Museum Pemilu menciptakan tempat belajar untuk memahami pemilihan umum dan manajemen pemilihan umum. Museum ini membawa kita menyusuri kenangan akan proses pemilihan umum dan menyajikan perjalanan pemilihan umum Indonesia yang luar biasa. Desain museum ini didasarkan pada pemahaman perjalanan pengunjung dan bagaimana artefak perlu dipamerkan sambil melestarikan perjalanan Pemilu.

museum

Museum Besalen Koripan

dukuh batokan

Koripan merupakan salah satu sentra pandai besi tertua di Jawa yang memainkan peran penting sejak masa Kerajaan Mataram Islam hingga Kasunanan Surakarta sebagai pemasok senjata seperti keris dan dikenal luas sebagai pusat pelestarian budaya metalurgi. Koripan merujuk pada 3 (tiga) desa, yaitu Desa Segaran, Desa Keprabon, dan Desa Kranggan yang kemudian terpisah menjadi wilayah administrasi mandiri. Nama Koripan sendiri berasal dari nama tokoh legendaris yang menjadi pelopor pembuatan keris pertama kali di daerah Koripan, yaitu Empu Korip. Keris hasil tempa pandai besi Koripan memiliki ciri khas tersendiri yang lazimnya disebut “Tangguh Koripan”. Keris dengan “Tangguh Koripan” telah tersebar penggunaannya di kalangan priagung Jawa pada masa peralihan Kerajaan Demak ke Kerajaan Pajang hingga Kerajaan Mataram Islam. Saat ini, dari 3 (tiga) desa yang dahulunya termasuk wilayah Koripan, hanya Desa Kranggan yang masih aktif dalam aktivitas pandai besi. Desa Kranggan sendiri terletak di Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Namun, seiring dengan perkembangan waktu, aktivitas pandai besi Desa Kranggan mengalami pergeseran dari produksi senjata seperti keris menjadi alat pertanian seperti sabit dan parang dan peralatan rumah tangga seperti pisau dapur. Pergeseran produk tersebut disebabkan oleh kondisi topografis desa sekitar yang didominasi persawahan dan bergerak pada budidaya pertanian sehingga Desa Kranggan berfokus menjadi pemasok alat pertanian bagi desa sekitar khususnya Desa Delanggu. Selain itu, minimnya regenerasi pandai besi Desa Kranggan dan jejak sejarah budaya metalurgi Koripan yang meredup menyebabkan budaya metalurgi Koripan berpotensi hilang. Berdasarkan permasalahan tersebut, Tim PPK Ormawa KSP “Principium” Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Tahun 2025 bersama mitra menginisiasi pembentukan paket pemberdayaan untuk menghidupkan kembali budaya metalurgi Koripan di Desa Kranggan. Program ini merupakan bagian dari skema kompetitif pendanaan Direktorat Pembelajaran Kemahasiswaan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang pelaksanaannya dimulai pada bulan Juli hingga November mendatang. Program unggulan yang diusung yaitu pembangunan Besalen Koripan sebagai sarana pengenalan budaya metalurgi Koripan ke masyarakat umum. Besalen bukan sekadar dimaknai sebagai bengkel tempat penempaan besi, melainkan sebagai wisata budaya edukatif yang berkelanjutan dalam bentuk living museum. Besalen Koripan menampilkan berbagai hasil produksi para pandai besi dari Desa Kranggan, mulai dari perkakas rumah tangga, alat pertanian, hingga benda-benda logam lain yang mencerminkan keahlian metalurgi lokal. Selain itu, melalui manuskrip dan narasi sejarah yang tersaji, Besalen Koripan juga berupaya merekonstruksikan kembali perjalanan Koripan sebagai salah satu pusat peradaban logam pada masa lampau. Seluruh isi Besalen dirancang untuk menjadi sarana edukasi, refleksi budaya, serta pelestarian pengetahuan turun-temurun yang diwariskan oleh para empu dan pengrajin logam lokal. Launching Besalen Koripan akan dilaksanakan pada tanggal 7 September 2025 mendatang bersamaan dengan Festival Mbok Sri yang diadakan di Desa Delanggu. Hal ini sebagai langkah strategis untuk mewujudkan paket wisata budaya dan merealisasikan integratif interkonektif antar wilayah Desa Kranggan dengan Desa Delanggu khususnya Sanggar Rojolele. Harapannya dengan adanya Program PPK Ormawa KSP “Principium” ini dapat meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat berbasis kearifan lokal dan terlestarikannya budaya metalurgi Koripan yang berkelanjutan.

Testimoni