museum

Museum Perjalanan Pemilu Indonesia

Jalan Pulo Mas Barart VI Kav.14-16, Kayu Putih, Pulo Gadung, RT.3/RW.10

Indonesia, yang telah berdiri selama lebih dari Tujuh dekade, telah muncul dan menjadi negara demokrasi terbesar ke 3 di dunia. Negara ini dianggap memiliki konstitusi terbaik yang memungkinkan setiap individu untuk memilih dan menjadi bagian dari pemilihan pemerintah mereka. Lebih dari 200 juta orang memberikan suara dalam pemilihan umum, sehingga prosesnya menjadi sangat rumit dan teliti. Proses pemilihan umum yang langsung, umum, rahasia, bebas, jujur dan adil, Serta transparan dengan intervensi teknologi yang konstan untuk penyelenggaraan pemilihan umum yang efisien dan efektif merupakan ciri khas manajemen pemilihan umum kita. Instrumen demokrasi telah berkembang sejak tahun 1955 ketika Pemilihan Umum pertama kali dilakukan. Ada sejarah demokrasi yang kaya dan bagaimana demokrasi telah ditangani oleh lembaga yang bertransformasi sepanjang perjalanan waktu pemilihan Umum. Namun, tidak ada satu tempat pun di mana koleksi warisan ini, instrumen yang dibutuhkan untuk menjalankan demokrasi dapat disimpan dan dikomunikasikan kepada masyarakat. Museum ini hadir dengan Optimis untuk menyatukan semua artefak terkait pemilu sejak kemerdekaan di bawah satu atap dan menjadikannya interaktif di mana masyarakat umum dapat datang dan memahami bagaimana demokrasi menjadi matang selama bertahun-tahun. Museum Pemilu menciptakan tempat belajar untuk memahami pemilihan umum dan manajemen pemilihan umum. Museum ini membawa kita menyusuri kenangan akan proses pemilihan umum dan menyajikan perjalanan pemilihan umum Indonesia yang luar biasa. Desain museum ini didasarkan pada pemahaman perjalanan pengunjung dan bagaimana artefak perlu dipamerkan sambil melestarikan perjalanan Pemilu.

museum

Museum Besalen Koripan

dukuh batokan

Koripan merupakan salah satu sentra pandai besi tertua di Jawa yang memainkan peran penting sejak masa Kerajaan Mataram Islam hingga Kasunanan Surakarta sebagai pemasok senjata seperti keris dan dikenal luas sebagai pusat pelestarian budaya metalurgi. Koripan merujuk pada 3 (tiga) desa, yaitu Desa Segaran, Desa Keprabon, dan Desa Kranggan yang kemudian terpisah menjadi wilayah administrasi mandiri. Nama Koripan sendiri berasal dari nama tokoh legendaris yang menjadi pelopor pembuatan keris pertama kali di daerah Koripan, yaitu Empu Korip. Keris hasil tempa pandai besi Koripan memiliki ciri khas tersendiri yang lazimnya disebut “Tangguh Koripan”. Keris dengan “Tangguh Koripan” telah tersebar penggunaannya di kalangan priagung Jawa pada masa peralihan Kerajaan Demak ke Kerajaan Pajang hingga Kerajaan Mataram Islam. Saat ini, dari 3 (tiga) desa yang dahulunya termasuk wilayah Koripan, hanya Desa Kranggan yang masih aktif dalam aktivitas pandai besi. Desa Kranggan sendiri terletak di Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Namun, seiring dengan perkembangan waktu, aktivitas pandai besi Desa Kranggan mengalami pergeseran dari produksi senjata seperti keris menjadi alat pertanian seperti sabit dan parang dan peralatan rumah tangga seperti pisau dapur. Pergeseran produk tersebut disebabkan oleh kondisi topografis desa sekitar yang didominasi persawahan dan bergerak pada budidaya pertanian sehingga Desa Kranggan berfokus menjadi pemasok alat pertanian bagi desa sekitar khususnya Desa Delanggu. Selain itu, minimnya regenerasi pandai besi Desa Kranggan dan jejak sejarah budaya metalurgi Koripan yang meredup menyebabkan budaya metalurgi Koripan berpotensi hilang. Berdasarkan permasalahan tersebut, Tim PPK Ormawa KSP “Principium” Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Tahun 2025 bersama mitra menginisiasi pembentukan paket pemberdayaan untuk menghidupkan kembali budaya metalurgi Koripan di Desa Kranggan. Program ini merupakan bagian dari skema kompetitif pendanaan Direktorat Pembelajaran Kemahasiswaan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang pelaksanaannya dimulai pada bulan Juli hingga November mendatang. Program unggulan yang diusung yaitu pembangunan Besalen Koripan sebagai sarana pengenalan budaya metalurgi Koripan ke masyarakat umum. Besalen bukan sekadar dimaknai sebagai bengkel tempat penempaan besi, melainkan sebagai wisata budaya edukatif yang berkelanjutan dalam bentuk living museum. Besalen Koripan menampilkan berbagai hasil produksi para pandai besi dari Desa Kranggan, mulai dari perkakas rumah tangga, alat pertanian, hingga benda-benda logam lain yang mencerminkan keahlian metalurgi lokal. Selain itu, melalui manuskrip dan narasi sejarah yang tersaji, Besalen Koripan juga berupaya merekonstruksikan kembali perjalanan Koripan sebagai salah satu pusat peradaban logam pada masa lampau. Seluruh isi Besalen dirancang untuk menjadi sarana edukasi, refleksi budaya, serta pelestarian pengetahuan turun-temurun yang diwariskan oleh para empu dan pengrajin logam lokal. Launching Besalen Koripan akan dilaksanakan pada tanggal 7 September 2025 mendatang bersamaan dengan Festival Mbok Sri yang diadakan di Desa Delanggu. Hal ini sebagai langkah strategis untuk mewujudkan paket wisata budaya dan merealisasikan integratif interkonektif antar wilayah Desa Kranggan dengan Desa Delanggu khususnya Sanggar Rojolele. Harapannya dengan adanya Program PPK Ormawa KSP “Principium” ini dapat meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat berbasis kearifan lokal dan terlestarikannya budaya metalurgi Koripan yang berkelanjutan.

museum

Museum Kolong Tangga

Sekarpethak RT01, Bangunjiwo

Museum Kolong Tangga merupakan museum anak pertama di Indonesia yang berupaya mempromosikan pendidikan alternatif melalui mainan dan permainan tempo dulu. Museum ini dikelola oleh Yayasan Anak Dunia Damai, yang memiliki motto ‘yayasan untuk semua anak’. Museum Kolong Tangga dibuka untuk umum pada 2 Februari 2008. Nama ‘Kolong Tangga’ merujuk pada letak bangunan awal pada saat didirikannya, yang berada persis di bawah tangga menuju Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Pada Juli 2017, Museum Kolong Tangga harus berhenti beroperasi dan pindah dari Taman Budaya Yogyakarta. Kemudian pada April 2023, Museum menempati gedung baru di alamat Sekarpetak, Bangunjiwo, Bantul. Museum Kolong Tangga dirancang untuk menjadi area publik, ruang tamu umum. Museum ini tidak hanya digunakan sebagai tempat untuk menyimpan dan menampilkan benda-benda sejarah semata, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi kreativitas anak-anak dengan melakukan kegiatan seperti lokakarya kreatif, konser musik, dan pameran sehingga anak-anak bisa merasa dekat dengan museum. Koleksi Museum Kolong Tangga tidak semata-mata berisi tentang mainan dan permainan tradisional, tetapi segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia anak. Saat ini koleksi museum kami berjumlah lebih dari 11.000 buah, terdiri atas mainan, permainan, buku, cerita, poster, gambar, dan lain-lain dari Indonesia dan dunia.

museum

Museum Sejarah Al-Quran Sumatera Utara

Jl. Williem Iskandar, Lantai 1 gedung Serbaguna Disporasu

Museum Sejarah Al-Qur'an Sumatera Utara berawal dari sebuah pameran mushaf Al-Qur'an kuno yang diselenggarakan dalam rangka Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional ke-XXVII di Sumatera Utara pada tahun 2018. Pameran tersebut kemudian menginspirasi gagasan untuk mendirikan sebuah museum permanen guna melestarikan koleksi mushaf tersebut secara lebih baik. Pascaberakhirnya MTQ Nasional 2018, timbul kekhawatiran akan nasib koleksi mushaf Al-Qur'an kuno tersebut, mengingat pentingnya nilai sejarah dan keagamaan yang dimilikinya. Hal ini mendorong pemilik museum, Ichwan Azhari yang memiliki relasi dengan Sekretaris Daerah (Sekda) Sumatera Utara, Sabrina untuk mengambil inisiatif dalam mewujudkan pendirian museum yang lebih formal dan terlembagakan. Dengan demikian, pameran mushaf Al-Qur'an pada MTQ Nasional 2018 menjadi landasan sekaligus motivasi utama bagi berdirinya Museum Sejarah Al-Qur'an Sumatera Utara.

museum

Museum Benyamin Suaeb

Jalan Bekasi Timur No.73

tes

museum

Museum Kanjeng Sepuh Sidayu

Jalan kanjeng pangeran no. 92.

Sidayu, wilayah di utara Kabupaten Gresik yang dilintasi Bengawan Solo dan berhadapan dengan pintu masuk Selat Madura, pernah menjadi pusat penting perdagangan dan pemerintahan. Pada masa lalu, Sidayu berstatus Kadipaten dengan wilayah luas hingga Gresik Utara, Lamongan Utara, dan Babat, sebelum kemudian berubah menjadi Kawedanan dan kini menjadi Kecamatan. Kejayaan Sidayu tidak terlepas dari sosok Kanjeng Sepuh, Adipati ke-8 Sidayu. Beliau meninggalkan warisan berupa bangunan bersejarah, pusaka, serta benda-benda penting seperti keris, tombak, pedang, kursi perjamuan, dan bendera pasukan. Untuk melestarikan tinggalan tersebut sekaligus mengenang jasa beliau, didirikanlah Museum Kanjeng Sepuh Sidayu, yang diresmikan pada 5 Februari 2024 oleh Bupati Gresik, Fandi Ahmad Yani.

Testimoni