museum

Museum Kayu Tuah Himba

Kawasan Waduk Panji Sukarame Jl. Anggana RT 25 No. 17

Museum Kayu Tuah Himba merupakan museum khusus yang berada di area Waduk Panji Sukarame, Kutai. Museum ini dibangun pada 1990-an dan menempati rumah panggung khas Kalimantan. Nama Museum Kayu Tuah Himba diambil dari semboyan Kota Tenggarong “Tuah Himba Untung Langging” berarti menjaga kekayaan hutan dan alam, maka manfaat yang diperoleh akan lancar. Museum ini didirikan sebagai langkah lanjutan terhadap penyimpanan dua buaya yang diawetkan disekitar area waduk. Buaya yang dijuluki monster dari Sangatta ini merupakan buaya muara yang sempat membuat ramai warga Kalimantan Timur pada 1996.

museum

Museum Probolinggo

Jl. Suroyo No.17

Museum Probolinggo merupakan museum yang dibuka untuk umum sejak 26 Agustus 2009 dan diresmikan pada 15 Mei 2011. Ide pendirian museum mulai muncul pada akhir tahun 2008 dengan tujuan untuk melestarikan sejarah Probolinggo. Ide ini berasal dari Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, BiasArts (British Indonesia Artists Society) dari Brighton Inggris, serta beberapa pihak lain. Kemudian pada 2009, mulai diterbitkan beberapa surat keputusan Walikota terkait upaya pembangunan Museum Probolinggo. Selanjutnya kepemilikan dan pengelolaan museum Probolinggo berada di bawah tanggung jawab Pemerintah Kota Probolinggo. Jenis koleksi yang dipamerkan di museum terdiri dari etnografika, arkeologi, historika, numismatika, filologika, keramologika, dan teknologika. Koleksi unggulan museum adalah Probolinggo Papier (uang kertas Probolinggo) dan guci kuno.

museum

Museum Surabaya

Jl. Tunjungan No.1

Museum Surabaya merupakan museum pemerintah yang menyediakan informasi mengenai kesejarahan Kota Surabaya. Museum yang menempati Gedung Siola ini terletak di kawasan yang terdapat beberapa cagar budaya di sekelilingnya. Gedung ini awalnya dibangun sebagai Toserba pada 1877. Pada masa pemerintahan Jepang, gedung diambil alih oleh pengusaha Jepang dan diganti menjadi toko tas sampai Jepang menyerah kepada Sekutu. Setelah itu gedung digunakan sebagai tempat pertahanan pahlawan Indonesia dari Sekutu lalu pada tahun 1960 gedung mulai difungsikan kembali oleh para pengusaha sebagai gedung “Siola” yang menyediakan berbagai kebutuhan dan dianggap sebagai pusat belanja besar pertama di Surabaya. Setelah itu gedung ini berganti-ganti fungsi dan pemilik karena kalah saing dengan toko-toko lainnya sampai akhirnya direnovasi oleh Pemerintah Kota Surabaya untuk difungsikan kembali. Pada tahun 2015 gedung mulai digunakan sebagai Museum Surabaya dan Unit Pelayanan Terpadu Satu Atap (UPTSA) Pusat Kota Surabaya. Koleksi-koleksi yang terdapat di dalam museum sebagian besar merupakan sumbangan dari organisasi perangkat daerah yang diharapkan dapat menambah informasi mengenai sejarah Surabaya di museum itu. Koleksi ini berupa arsip pemerintahan Kota Surabaya masa lalu, furnitur kuno, piano, trofi, dan lainnya. Saat ini kepemilikan museum berada di bawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya dan dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum Surabaya.

museum

Museum Pusaka Karo

Jl. Perwira No 1 Kota Berastagi

Museum Pusaka Karo merupakan museum umum yang didirikan atas gagasan seorang misionaris Belanda bernama Leonardus Joosten Edigius yang lebih dikenal sebagai Pastor Leo Joosten Ginting (bere-bere Sitepu). Diresmikan pada tanggal 9 Februari 2013 oleh Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya: Dr. Ahman Sya dan Uskup Agung Medan: Mgr. Anicetus Sinaga OFMCap. Museum ini dikelola oleh Yayasan Pusaka Karo yang berbasis di kota Berastagi, Kabupaten Karo - Sumatera Utara. Koleksi-koleksi yang dipamerkan di museum ini mayoritas adalah benda etnografika yang diperoleh secara hibah maupun dititipkan oleh masyarakat Karo itu sendiri..

museum

Museum Batak TB Silalahi Center

Jl. Dr. TB Silalahi No.88

Museum Batak TB Silalahi Center dibangun untuk melestarikan warisan budaya Batak diantara budaya modern yang sedang berlangsung. Museum ini juga dibangun untuk menyatukan enam sub etnis Batak di Sumatera Utara antara lain Toba, Simalungun, Karo, Mandailing, Angkola, dan Pakpak

museum

Museum Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) rencananya mulai dirintis pada saat perencanaan perayaan Jubileum 100 tahun GBKP yaitu peringatan masuknya injil ke Tanah Karo. Museum GBKP dibangun untuk melestarikan dokumen sejarah injil dan budaya Karo. Museum ini terletak di Komplek Taman Jubileum 100 Tahun GBKP, peletakan batu pertamanya dilakukan pada tanggal 30 Juli 1990 bersamaan dengan peresmian Taman Jubileum 100 Tahun GBKP

Testimoni