museum

Museum Kota Tebing Tinggi

Jalan Balaikota No.1

Museum Kota Tebing Tinggi dibangun pada tahun 2014 dan diresmikan pada tanggal pada tahun yang sama yakni 13 Desember 2014 oleh Walikota Tebing Tinggi, Ir. H. Umar Zunaidi Hasibuan dan Hj. Sri Kurnianingsih. Tujuan dari pendirian museum ini tidak lain sebagai media dukasi pendidikan bagi pelajar-pelajar untuk mengetahui tentang sejarah Tebingtinggi mulai dari zaman kerajaan, perang kemerdekaan dan masa orde baru. Pada awalnya gedung Museum Kota Tebing Tinggi merupakan bekas kantor Belanda, yang kemudian terus berganti sesuai kebutuhan hingga dijadikan sebagai balai kota, dan akhirnya dialihfungsikan sebagai museum.

museum

Museum Daerah Kabupaten Langkat

Jl. T. Amir Hamzah

Gedung Museum langkat adalah merupakan bangunan kerapatan kesultanan Langkat. Gedung museum diresmikan pada tanggal 22 Desember oleh Bupati Langkat Syamsul Arifin.Bangunan museum ini berdiri diatas lahan seluas 4049 m yang berbentuk segitiga dengan luas bangunan sekitar 453 m yang berada di persimpangan jalan. Museum langkat memiliki koleksi sebanyak buah 214 yaitu koleksi etnografika ,koleksi filologika, koleksi keramologika, koleksi hitorika dan koleksi numismatika .

museum

Museum Kereta Api menempati bangunan yang dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada 1902. Pembangunan stasiun kereta api Sawahlunto dimaksudkan sebagai moda transportasi pengangkut batubara pada masa itu pada awal abad-19 hingga pertengahan abad ke-20. Akhirnya pada tahun 2000 produksi batu bara di Sawahlunto yang berimbas pada aktifitas dan keberadaan kereta api di Sumatera Barat Akhirnya dengan diberhentikannya operasi kereta api di Sawah Lunto pada tahun 2003 menjadi titik awal dari rencana diadakannya museum kereta api. Museum ini dulunya merupakan stasiun kereta api yang termasuk dalam Devisi Regional III Sumatera Barat. Pembangunan museum kereta api ini juga sebagai upaya melestarikan Stasiun Sawahlunto, PT Kereta Api Indonesia dan pemerintahan Kota Sawahlunto bekerja sama memanfaatkan Stasiun Sawahlunto sebagai museum. Museum Sawahlunto diresmikan tanggal 17 Desember 2005 oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.

museum

UPTD Museum Yadnya

Jl. Ayodya

Museum Manusa Yadnya merupakan museum khusus yang pendiriannya sudah dirintis sejak tahun 1974 yang merupakan bagian dari pembangunan Mandala Wisata Mengwi. Pada tahun 1979 dengan memanfaatkan beberapa gedung Mandala Wisata, dibukalah Museum Manusa Yadnya yang bertujuan untuk menyelamatkan benda budaya Bali yang berhubungan dengan upacara daur hidup. Museum berada di bawah kepemilikan Pemerintah Kabupaten Badung dan dikelola oleh UPT Museum Yadnya. Pada tahun 2006 museum ini direvitalisasi dan resmi dibuka dengan memamerkan koleksi peralatan upacara Pitra Yadnya yang meliputi upacara Ngaben dan Memukur. Aneka perangkat yang digunakan dalam ritual-ritual keagamaan yang disebut panca yadnya. Secara sederhana, panca yadnya dapat diartikan sebagai persembahan suci dalam lima dimensi spiritual Hindu.

museum

UPTD Gedong Kirtya Singaraja

Jalan Veteran Nomer 23

Warisan budaya Bangsa Indonesia sangat beragam, baik berupa peninggalan fisik maupun nonfisik. Salah satu peninggalan yang cukup penting adalah prasasti berbahan daun lontar. Prasasti berbahan daun lontar ini banyak ditemui di daerah Bali dan Lombok. Sampai saat ini masih terpelihara dengan baik walaupun sudah berkurang jumlahnya akibat rusak termakan usia. Saat ini institusi yang masih melindungi dan melestarikan lontar adalah UPTD Gedong Kirtya. Berbicara Gedong Kirtya tidak lepas dari jasa dua orang Belanda yakni F.A. Liefrienck dan Der. Van Der Tuuk yang telah mempelopori penelitian kebudayaan, adat istiadat dan bahasa di Bali. Ketertarikan mempelajari budaya Bali dan Lombok ini akhirnya ditindaklanjuti oleh LJJ Caron, Dr. ER Ng Purbacaraka, Dr. WR. Stuterheim, Dr. R Goris, Dr. Th Pigand, Dr. C Hooykaas dengan membuat pertemuan di Kintamani, dari hasil pertemuan ini lahirlah sebuah yayasan (stiching) yang menitikberatkan kegiatan untuk penyimpanan lontar dan kegiatan ini dibantu oleh para pinandita dan raja-raja sebali. Yayasan ini dapat dianggap sebagai miniatur asiatic society untuk daerah Bali dan Lombok karena banyak memiliki koleksi serta penerbitan-penerbitan berkala dari sarjana-sarjana yang mengadakan riset tentang seluk beluk mengenai Bali. Yayasan ini memiliki gedung sebagai tempat untuk melakukan aktivitas kegiatan mereka yang didirikan pada tanggal 2 Juni 1928. Gedung ini dinamakan Stiching Liefrinck Van Der Tuuk. Tetapi atas saran Raja Buleleng I Gusti Putu Djelantik, nama Gedung ini dtambah dengan Bahasa sansekerta-Bali KIRTYA. Sehingga menjadi Kirtya LIefrinck Van Der Tuuk. Dan mulai dibuka untuk umum pada tanggal 14 September 1928 atau 1850 Saka sesuai yang diperlihatkan monogram atau Candra Sengkala yang dipahat pada pintu masuk (Paduraksa). Paduraksa tersebut bergambar manusia yang menaiki gajah dengan busur panah ditangannya, kemudian membunuh musuhnya dan orang yang kena panah itu mati. Nilai yang terkandung dari masing-masing gambar sebagai berikut: Manusia (1), Gajah (8), Panah (5), Orang Mati (0), jadi jika dibaca tahun isakanya menjadi 1850.

museum

Museum Manusia Purba Gilimanuk merupakan museum yang memamerkan temuan dari Situs Purbakala Gilimanuk. Situs Purbakala Gilimanuk ditemukan pada tahun 1962, yaitu dengan ditemukan berbagai peninggalan ketika pembuatan jalan dari hutan Cekik menuju Singaraja. Temuan-temuan tersebut dapat dikatakan bersifat arkeologis setelah dilaksanakannya tes menggunakan Radio Carbon Dating yang menunjukan bahwa Situs Purbakala Gilimanuk telah terdapat kehidupan Manusia Purba. Dari kegiatan ekskavasi pertama yang dilaksanakan mulai tahun 1963 yang dipimpin oleh Prof.Dr. R. P. Soejono, sampai terakhir tahun 2013 terkumpul hampir 140-an set rangka manusia beserta berbagai macam bekal kuburnya.

Testimoni