museum

Museum Kretek

Jl. Getas Pejaten No.155, Getas, Getas Pejaten, Kec. Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah

Museum Kretek merupakan museum khusus yang dibangun dan diresmikan Menteri Dalam Negeri pada tanggal 3 Oktober 1986 dibiayai oleh Persatuan Pengusaha Rokok Kudus. Museum Kretek didirikan untuk menunjukan bahwa kretek berkembang sangat pesat di tanah Jawa khususnya di Kota Kudus. Museum ini berada di bawah kepemilikan Pemerintah Kabupaten Kudus dan dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus. Di museum ini diperkenalkan sejarah tentang kretek hingga proses produksi rokok kretek, mulai dari pembuatan secara manual sampai menggunakan teknologi modern. Di sana juga bisa ditemukan siapa saja tokoh-tokoh yang berperan besar dalam memajukan bisnis rokok di Indonesia. Interior museum dipenuhi dengan patung-patung dan berbagai macam perlengkapan pembuatan rokok. Patung-patung tersebut adalah hasil karya seniman-seniman Kudus, khususnya dari kalangan pendidik. Koleksi unggulan dari museum ini adalah benda-benda promosi kretek pada masa lalu.

museum

Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja

Jl. Purbalingga - Klampok No.142, Purbalingga, Purbalingga Lor, Kec. Purbalingga, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah

Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja merupakan museum umum pertama milik Pemerintah Daerah Kabupaten Purbalingga. Berdiri atas prakarsa Bupati Purbalingga periode 2000 - 2010, Drs. Triyono Budi Sasongko, M.Si. Gagasan pendirian museum ini didasari oleh banyaknya temuan artefak yang perlu dilestarikan. Museum resmi dibuka untuk umum pada 24 April 2003 oleh Gubernur Jawa Tengah, Drs. H. Mardiyanto. Nama museum diambil dari tokoh kelahiran Desa Prigi, Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga yaitu Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja. Sejarah berkariernya di bidang pendidikan tanah air telah dimulai sejak 1921 hingga akhir hidupnya pada tahun 1984. Dikenal sebagai pendiri dan rektor pertama Universitas Cendrawasih di Papua. Dengan falsafah hidup ksatria Jawa yang dianggap sembada atau paripurna apabila telah memiliki wisma, turangga, wanita, kukila, curiga / pusaka, Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja mencoba mengingatkan kembali akar budaya dan sejarah masyarakat Purbalingga agar dapat terus bersinergi dengan arus jaman. Koleksi terdiri dari berbagai jenis. Diantaranya : koleksi arkeologika perbengkelan gelang batu, koleksi memorabilia Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja, koleksi memorabilia Bupati era pra kemerdekaan, koleksi keramologika, etnografika hingga Wayang Suket Mbah Gepuk yang telah mendapat status Warisan Budaya TakBenda (WBTB) pada tahun 2020.

museum

Museum RA. Kartini Rembang

Jl. Jend. Gatot Subroto No. 08 Rembang

Museum R.A. Kartini Rembang merupakan museum khusus yang didirikan pada 21 April 1967. Museum RA Kartini Rembang terletak di Jl. Gatot Subroto No.8, Rembang. Bangunan yang didominasi warna hijau putih ini menyimpan koleksi barang pribadi milik R.A. Kartini, seperti tempat tidur, bathub pribadi, tempat jamu, meja makan, mesin jahit, lesung, cermin rias dan juga meja untuk merawat bayi. Di sana juga terdapat ruang yang berisi berbagai karya dari pahlawan nasional itu, diantaranya adalah buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”, tulisan tangan surat-surat R.A. Kartini yang dikirimkan ke teman-temannya di luar negeri dan lukisan karyanya serta foto-foto dirinya beserta keluarga semasa ia hidup. Koleksi unggulan museum ini adalah tulisan Kartini “Kongso Adu Jago”.

museum

Museum Blambangan

Jl. Jenderal Ahmad Yani No.78, Taman Baru, Banyuwangi, Jawa Timur

Museum Blambangan merupakan museum umum yang didirikan pada 25 Desember 1977 dan diresmikan oleh Gubernur Tingkat I Jawa Timur yaitu Soenandar Priyoseodarmo. Pengembangan museum ini mempunyai tujuan untuk melestarikan warisan budaya bangsa khususnya jenis peninggalan bersejarah yang menjadi milik masyarakat Kabupaten Banyuwangi. Museum ini diberi nama Blambangan karena konon dulu di wilayah ini merupakan wilayah bekas Kerajaan Blambangan yang cukup dikenal, pada waktu kejayaan Kerajaan Majapahit. Pada awalnya Museum Blambangan menempati bangunan peninggalan Belanda yang sempat berfungsi sebagai Kantor Pembantu Bupati atau Kawedanan. Bangunan kuno tersebut mulai difungsikan sebagai museum sejak 2003. Setelah otonomi daerah, pengelolaan museum dialihkan ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi dan pada 2 Januari 2004, lokasi museum dipindahkan ke Lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi. Saat ini museum dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Museum Blambangan. Jenis koleksi yang ada di museum ini terdiri dari etnografika, arkeologika, histotrika, numistika, fiologika, keramologika dan seni rupa

museum

Museum Penataran

Jl. Raya Penataran No.11, RW.06, Penataran, Nglegok, Blitar, Jawa Timur

Museum Penataran pada awalnya bernama Museum Blitar yang didirikan oleh Bupati Blitar, Warsokusumo. Pada 1866 museum ini berada di Kompleks Pendopo Kabupaten Blitar, kemudian dipindahkan ke area Percandian Penataran pada tahun 1999, dan berganti nama menjadi Museum Penataran. Museum Penataran hadir sebagai sarana untuk melindungi benda purbakala yang ada di sekitar Kabupaten Blitar, selain difungsikan untuk melindungi peninggalan masa lalu, museum ini juga dimanfaatkan untuk rekreasi, pendidikan, dan juga penelitian. Museum memiliki banyak koleksi berupa benda purbakala seperti arca, prasasti, dan alat pendukung kehidupan pada masa lalu. Koleksi unggulan dari museum ini terdiri dari arca Brahma, arca Wisnu, arca Siwa; arca Durga Mahisasuramardini; arca Siva Gajahsura, arca perwujudan, Siwa Trisirah. Museum penataran berada di bawah kepemilikan Dinas Kebudayaan Kota Blitar dan dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Museum Penataran Blitar.

museum

Museum Daerah Kabupaten Gresik “Sunan Giri”

Komplek Kubur Sunan Giri, Jl. Sunan Giri IIa, Desa Giri, Kec. Kebomas, Kab. Gresik, Jawa Timur

Museum Daerah Kabupaten Gresik “Sunan Giri” merupakan museum khusus yang diresmikan pada 9 Maret 2002, tetapi baru difungsikan pada 17 Maret 2003 bersamaan dengan Hari Jadi Kota Gresik oleh Bupati Gresik, Drs. K.H. Robbach Ma’sum, MM. Kepemilikan museum dipegang oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gresik dan pengelolaan berada di bawah Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum Daerah Kabupaten Gresik “Sunan Giri”. Lokasi museum berada di sudut pelataran parkir kawasan wisata religi Maulana Malik Ibrahim. Museum ini diharapkan dapat menjadi pusat informasi mengenai kesejarahan Kabupaten Gresik karena banyak tinggalan arkeologis di Kabupaten Gresik dan belum ada tempat yang dapat menampungnya. Jenis koleksi yang ditampilkan terdiri dari fragmen sajadah, kaligrafi, naskah kuno, surban Sunan Giri, bedug, rebana, keris, tombak, dan lainnya. Salah satu koleksi andalan Museum Sunan Giri adalah bedug peninggalan Maulana Malik Ibrahim yang berasal dari masa akhir abad ke-14. Bedug ini terbuat dari sepotong kayu besar dan kulit lembu. Bedug ini diperoleh dari Masjid Pesucian Desa Leran Kecamatan Manyar.

Testimoni