Data Museum
Museum Kota Langsa
Jl. Ahmad Yani, Gp. Blang PaseeMuseum Kota Langsa merupakan museum umum yang didirikan pada 2016. Museum ini menempati Gedung Balai Juang Kota Langsa
Museum Menara Gentala Arasy
Kel. Arab Melayu, Kec. Pelayangan Kota Jambi SeberangMuseum Menara Gentala Arasy merupakan museum yang menyajikan perkembangan Islam di Jambi. Museum ini diresmikan pada tanggal 28 Maret 2015 oleh Wakil Presiden Republik Indonesia H. Muhammad Jusuf Kalla. Menara ini merupakan lambang bahwa Kota Jambi Seberang merupakan pusat pendidikan Islam. Nama Gentala Arasy berasal dari kata gentala ini singkatan dari genta dan tala yang artinya lonceng dan penyelaras serta arasy merupakan tempat tertinggi Allah SWT
Museum Perjuangan Subkoss Garuda Sriwijaya
Jalan Garuda Hitam, No. 1-2Museum Perjuangan Subkoss Garuda Sriwijaya merupakan sebuah unit museum yang dikelola oleh UPTD. Museum Negeri Sumatera Selatan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan. Museum ini dikategorikan sebagai museum khusus berkaitan dengan masa perjuangan revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan di Sumatera bagian Selatan tahun 1945-1949 dengan memamerkan dua buah koleksi masterpiece, yaitu Lokomotif Uap C3082 dan Mobil Jeep Willys ‘Tarzan’ peninggalan pahlawan nasional dr. AK. Gani, serta beberapa koleksi lainnya seperti Landmine, Meriam Kecepek, Keris, Pedang, Tombak, Arsip Foto, Dokumen-Dokumen, dan lain-lain. Museum ini terletak di Jalan Garuda Hitam, No. 1-2, Kelurahan Pasar Permiri, Kecamatan Lubuklinggau Barat II, Kota Lubuklinggau, Provinsi Sumatera Selatan dengan luas bangunan 1.700 m2. Museum ini difungsikan dan dibuka secara resmi oleh Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia, Bapak H. Alamsyah Ratuprawiranegara pada tanggal 15 Januari 1988. Sebelum difungsikan sebagai museum, gedung ini digunakan sebagai rumah jabatan controleur (pengawas) di pemerintahan Onder Afdeeling Moesi Oeloe masa Kolonial Belanda dari tahun 1934-1942 berkedudukan di Lubuklinggau. Memasuki masa pendudukan Jepang, gedung ini dijadikan sebagai rumah jabatan Bunshu-tyo (Bupati) bernama Swada pada pemerintahan Bunshu Musi Kami Rawas dari tahun 1942-1945. Kemudian pada masa revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan, barulah gedung ini dijadikan sebagai markas militer Sub Komandemen Sumatera Selatan (SUBKOSS) dari bulan Juli 1947 hingga Desember 1948. Sebelumnya markas SUBKOSS berada di Lahat, kemudian dipindahkan ke Lubuklinggau akibat peristiwa Agresi Militer Belanda I yang menyerang wilayah Sumatera bagian Selatan. Pada saat di Lubuklinggau, militer SUBKOSS ini dipimpin oleh Kolonel Maludin Simbolon didampingi Kepala Staf bernama Letkol (tituler) dr. Ibnu Sutowo yang membawahi beberapa sub-sub teritorial antara lain: 1. Sub Teritorial Palembang (STP) dipimpin oleh Letkol Bambang Utoyo berkedudukan di Muara Beliti; 2. Sub Teritorial Djambi (STD) dipimpin oleh Letkol Abunjani berkedudukan di Jambi; 3. Sub Teritorial Lampung (STL) dipimpin oleh Letkol Syama’un Gaharu berkedudukan di Lampung; 4. Sub Teritorial Bengkulu (STB) dipimpin oleh Letkol Barlian berkedudukan di Bengkulu. Selanjutnya selama periode tahun 1950-1988, gedung ini dijadikan sebagai rumah dinas bupati di Kabupaten Musi Ulu Rawas yang kemudian mengalami penyederhanaan nama menjadi Kabupaten Musi Rawas. Hingga pada akhirnya, gedung ini diresmikan menjadi museum sampai saat ini. Pada awalnya pengelolaan museum ini dilakukan oleh Yayasan Perjuangan Subkoss Garuda Sriwijaya. Namun pada tanggal 30 Juli 1999, pengelolaannya diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan melalui berita acara antara Gubernur Sumatera Selatan H. Rosihan Arsyad dengan Ketua Yayasan Perjuangan Subkoss Garuda Sriwijaya Drs. H.M. Syu’eb Tamat. Kemudian berdasarkan Peraturan Gubernur Sumatera Selatan Nomor 24 Tahun 2018 pada Pasal 11 mengatakan bahwa pengelolaan museum ini berada di bawah UPTD Museum Negeri Sumatera Selatan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan. Kemudian pada tahun 2019, Museum Perjuangan Subkoss Garuda Sriwijaya melakukan renovasi tata pamer dan mengubah tema pameran menjadi “Menelusuri Jejak Revolusi Fisik Kemerdekaan di Sumatera bagian Selatan” agar dapat memberikan gambaran mengenai jejak revolusi fisik dalam mempertahankan kemerdekaan di wilayah Sumatera bagian Selatan dari tahun 1945-1949. Pada tahun 2025, berdasarkan Peraturan Gubernur Sumatera Selatan Nomor 48 Tahun 2025 tentang Pembentukan, Uraian Tugas dab Fungsi Unit Pelaksana Teknis Dinas di Lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bahwa Museum Subkoss dan Monpera disatukan pengelolaannya di bawah Seksi Museum Perjuangan, UPTD Museum Negeri Sumatera Selatan.
UPTD Monumen Perjuangan Rakyat Bali
Jl. Raya Puputan Niti MandalaMonumen Perjuangan Rakyat Bali merupakan museum yang didirikan atas gagasan Prof. Dr. Ida Bagus Mantra saat menjabat Gubernur Bali. Pembangunan monumen dimulai tahun 1988 sampai 2001. Monumen diresmikan pada tanggal 14 juni 2003 oleh Presiden RI Megawati Sukarno Putri. Bangunan dengan luas 4.900 m2 ini dilengkapi dengan dekorasi luar berupa arca-arca yang menggambarkan siklus zaman yang disebut Catur Yuga. Bentuk segi delapan dan teratai berdaun delapan yang disebut Asta Dala melambangkan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.
UPTD Museum Subak
Jl. Gatot Subroto, Kediri, Tabanan, BaliMuseum Subak merupakan museum yang pendiriannya digagas oleh Prof. Dr. Ida Bagus Mantra. Subak merupakan warisan budaya dunia yang telah ditetapkan oleh UNESCO tahun 2012. Sejak tahun 1975, I Gusti Ketut Kaler, pakar adat dan agama Propinsi Bali mencetuskan gagasan melestarikan lembaga adat subak sebagai warisan budaya bangsa yang menjadi Cagar Budaya Museum Subak yang selanjutnya bernama Museum Subak. Dipilihnya daerah Tabanan sebagai lokasi museum, karena memiliki subak terbanyak, areal terluas, dan lumbung beras Bali. Museum Subak diresmikan oleh Gubernur Bali, Prof. Dr. Ida Bagus Mantra pada tanggal 13 Oktober 1981.
Museum Sunan Drajat
Jl, Sunan DrajatMuseum Sunan Drajat merupakan museum khusus yang mulai dibangun pada 1991 -1992. Museum ini diresmikan pada 1 Maret 1992 oleh Gubernur Jawa Timur. Lokasi museum berada di lingkungan makam Sunan Drajat, atau tepatnya berada di sebelah timur cungkup makam Sunan Drajat. Pembangunan museum ini diprakarsai oleh Bupati Lamongan, H.R. Mohammed Faried, S.H. sebagai penghormatan jasa-jasa Sunan Drajat sebagai wali penyebar agama Islam di wilayah Lamongan dan juga sebagai pelestarian budaya benda-benda bersejarah peninggalan keluarga dan para sahabatnya yang berjasa untuk penyiaran Islam. Museum ini memiliki koleksi perunggu, keramik, kayu jati, terakota, batu besi, kulit, kuningan, baja kertas, lontar dan bambu, alumunium, logam, buku dan kertas, kain, bedug. Museum ini juga menampilkan koleksi unggulan berupa gamelan Singo Mengkok, Batik Drajat, dan daun lontar. Saat ini kepemilikan museum berada di bawah tanggung jawab Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lamongan dan dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum Sunan Drajat.