Tutup kepala
museum rumah adat nan baanjuang
Deskripsi
Penghulu dalam acara adat selalu memakai pakaian kebesarannya dengan memakai baju gadang/lapang, celana, sisamping, saluak/tutup kepala, ikat pinggang, sandang, pending, keris, donsi, sandal, tongkat dan atribut-atribut lainnya seperti karenteng/uncang sagama dll. Diantaranya adalah tutup kepala/saluak merupakan salah satu kelengkapan pakaian penghulu dalam upacara adat. Saluak/tutup kepala terbuat dari kain katun yang dibuat melalui teknik batik cetak warna merah, krem dan hitam. Hiasan dengan memakai teknik cetak dengan motif bunga, belah ketupat dan garis-garis/geometiris. Bentuk empat persegi panjang, kemudian dibentuk hingga menjadi sebuah tutup kepala/saluak. Bagian depan saluak ini dilipat atau dikerutkan sebanyak 10 tingkat kerutan. Saluak ini dipakai sebagai tutup kepala penghulu pada waktu upacara adat. Makna dari kerutan saluak tersebut menandakan tingkat kesulitan penghulu dalam memimpin kaumnya dalam suatu nagari, bahwasanya seorang penghulu harus bijaksana dan berhati lapang dalam menghadapi berbagai persoalan yang terjadi dalam suatu nagari
Sejarah
Penghulu dalam acara adat selalu memakai pakaian kebesarannya dengan memakai baju gadang/lapang, celana, sisamping, saluak/tutup kepala, ikat pinggang, sandang, pending, keris, donsi, sandal, tongkat dan atribut-atribut lainnya seperti karenteng/uncang sagama dll. Diantaranya adalah tutup kepala/saluak merupakan salah satu kelengkapan pakaian penghulu dalam upacara adat. Saluak/tutup kepala terbuat dari kain katun yang dibuat melalui teknik batik cetak warna merah, krem dan hitam. Hiasan dengan memakai teknik cetak dengan motif bunga, belah ketupat dan garis-garis/geometiris. Bentuk empat persegi panjang, kemudian dibentuk hingga menjadi sebuah tutup kepala/saluak. Bagian depan saluak ini dilipat atau dikerutkan sebanyak 10 tingkat kerutan. Saluak ini dipakai sebagai tutup kepala penghulu pada waktu upacara adat. Makna dari kerutan saluak tersebut menandakan tingkat kesulitan penghulu dalam memimpin kaumnya dalam suatu nagari, bahwasanya seorang penghulu harus bijaksana dan berhati lapang dalam menghadapi berbagai persoalan yang terjadi dalam suatu nagari
Nomor inventarisasi :
03.129
Nomor Registrasi :
198
Tempat Pembuatan :
Kota Bukittinggi
Status Cagar Budaya :
Bukan Cagar Budaya
Klasifikasi :
Etnografika
Kondisi Koleksi :
Utuh
Tanggal Registrasi:
24 Apr 2025
Cara Perolehan:
Pembelian
Keaslian:
Asli
Nama Museum :
Nomor Pendaftaran Nasional Musuem:
13.75.U.05.0009
Alamat Museum:
Jl. Cindua Mato No. 10