Probolinggo Papier

museum probolinggo

Deskripsi

Uang Kertas Probolinggo diterbitkan pada tahun 1810 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels sebagai surat berharga bernilai 100 hingga 1000 Rijksdaalder dengan jaminan tanah Probolinggo yang dijual kepada Han Ti Ko seharga 1 juta Rijksdaalder, sebagai upaya mengatasi krisis keuangan akibat defisit besar dan blokade Inggris terhadap perdagangan Hindia Belanda.

Sejarah

Uang Kertas Probolinggo dikeluarkan pada 1810, pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811). Ketika itu keadaan keuangan negara di Hindia Belanda mengalami defisit berat karena pengeluaran jauh lebih besar daripada pemasukan. Pengeluaran terbesar adalah untuk perbaikan kesejahteraan pegawai dan tentara, memperkuat benteng-benteng pertahanan, biaya peperangan dengan raja-raja di tanah Jawa, dan pembuatan jalan raya baru antara Anyer hingga Panarukan. Di pihak lain, hasil bumi yang melimpah tidak dapat dijual ke luar negeri karena blokade tentara Inggris. Daendels yang memerintah dengan tangan besi pusing memikirkan keadaan keuangan pemerintahannya. Suatu saat dia menemukan gagasan untuk menjual tanah-tanah pemerintah kepada pihak swasta (partikelir). Sebagai perjanjian, pemilik tanah akan mendapat kekuasaan mutlak atas tanah yang dimilikinya, misalnya boleh menarik pajak seenaknya, mempekerjakan orang secara rodi, dsb. Bahkan polisi pemerintahan tidak boleh ikut campur atas perbuatan tersebut karena mereka boleh memiliki polisi sendiri. Beberapa daerah yang dijual ke pihak swasta itu antara lain tanah Probolinggo, Panarukan, Besuki, dll. Tanah Probolinggo yang terluas itu dijual kepada seorang konglomerat bernama Han Ti Ko dengan harga 1 juta Rijksdaalder atau dikenal juga 1 juta Ringgit. Suatu jumlah yang besar sekali waktu itu, namun pembayarannya boleh dicicil. Karena pemerintah memerlukan uang dengan segera, maka diterbitkanlah surat berharga dengan jaminan uang perak senilai tanah Probolinggo tersebut untuk jangka waktu 10 tahun. Surat berharga inilah yang disebut Kertas Probolinggo dan diterbitkan dalam beberapa nilai nominal, yaitu 100, 200, 300, 400, 500, dan 1000 Rijksdaalders. Surat berharga tersebut dicetak dalam bahasa Belanda dan Arab Melayu, ditandatangani langsung oleh para pejabat yang berwenang dan dibubuhi cap “LN” (Lodewijk Napoleon) bertahun 1810. Waktu itu kerajaan Belanda berada di bawah kekuasaaan kekaisaran Perancis pimpinan Napoleon.

Nomor inventarisasi :

I.2.2.3/1/INV/2010

Nomor Registrasi :

I.2.2/1/REG/2010

Tempat Pembuatan :

-

Status Cagar Budaya :

Bukan Cagar Budaya

Klasifikasi :

Numismatika

Kondisi Koleksi :

Utuh

Tanggal Registrasi:

1 Jan 2010

Cara Perolehan:

Hibah

Keaslian:

Asli

Nama Museum :

Museum Probolinggo

Nomor Pendaftaran Nasional Musuem:

35.74.U.05.0148

Alamat Museum:

Jl. Suroyo No.17

Galeri

Testimoni