Miniatur kilangan tebu

museum rumah adat nan baanjuang

Deskripsi

DESKRIPSI/URAIAN Tanaman tebu hidup subur di Minangkabau terutama di daerah perbukitan yang sejuk, seperti di Lawang, daerah di kaki gunung Merapi dan Singgalang. Air tebu dapat diolah menjadi gula atau saka. Secara tradisional air tebu diolah dengan seperangkat peralatan disebut juga kilang tebu yang dijalankan menggunakan tenaga kerbau atau sapi sekarang sudah pakai mesin. Kilangkan tebu berada dalam sebuah pondok sederhana, memiliki jalan melingkar untuk jalan kerbau, memiliki 2 buah balok kayu yang telah dibentuk seperti ulir, bagian atas dihubungkan dengan kayu ke pundak kerbau. Bila kerbau berjalan maka balok kayu yang memiliki ulir akan berputar. Tebu yang telah dibersihkan kulit luarnya kemudian dibelah dimasukan kebagian bawah ulir sehingga dapat memeras air tebu. Bagian bawah terdapat wadah tempat menampung air tebu. Bila sudah penuh air tebu disaring dan dimasak dalam wadah kancah hingga kental berwarna coklat kemudian dicetak dalam wadah tempung/sayak setelah keras dibuka dari wadahnya. Gula saka ini dapat digunakan untuk membuat berbagai makanan seperti kalamai, pinyaram, kolak dsb.

Sejarah

DESKRIPSI/URAIAN Tanaman tebu hidup subur di Minangkabau terutama di daerah perbukitan yang sejuk, seperti di Lawang, daerah di kaki gunung Merapi dan Singgalang. Air tebu dapat diolah menjadi gula atau saka. Secara tradisional air tebu diolah dengan seperangkat peralatan disebut juga kilang tebu yang dijalankan menggunakan tenaga kerbau atau sapi sekarang sudah pakai mesin. Kilangkan tebu berada dalam sebuah pondok sederhana, memiliki jalan melingkar untuk jalan kerbau, memiliki 2 buah balok kayu yang telah dibentuk seperti ulir, bagian atas dihubungkan dengan kayu ke pundak kerbau. Bila kerbau berjalan maka balok kayu yang memiliki ulir akan berputar. Tebu yang telah dibersihkan kulit luarnya kemudian dibelah dimasukan kebagian bawah ulir sehingga dapat memeras air tebu. Bagian bawah terdapat wadah tempat menampung air tebu. Bila sudah penuh air tebu disaring dan dimasak dalam wadah kancah hingga kental berwarna coklat kemudian dicetak dalam wadah tempung/sayak setelah keras dibuka dari wadahnya. Gula saka ini dapat digunakan untuk membuat berbagai makanan seperti kalamai, pinyaram, kolak dsb.

Nomor inventarisasi :

08.01

Nomor Registrasi :

94

Tempat Pembuatan :

Kota Bukittinggi

Status Cagar Budaya :

Bukan Cagar Budaya

Klasifikasi :

Teknologi/Modern

Kondisi Koleksi :

Tidak Lengkap

Tanggal Registrasi:

$koleksi['Profile'][0]->tgl_registrasi

Cara Perolehan:

Pembelian

Keaslian:

Replika

Nomor Pendaftaran Nasional Musuem:

13.75.U.05.0009

Alamat Museum:

Jl. Cindua Mato No. 10

Galeri

Testimoni