Ladiang

museum rumah adat nan baanjuang

Deskripsi

Ladiang merupakan salah satu alat pertanian tradisional yang digunakan dalam aktivitas pertanian dan pekerjaan di ladang. Bentuknya sederhana, terdiri dari bilah besi memanjang dengan ujung sedikit melengkung. Bagian gagang terbuat dari kayu yang dirancang menyesuaikan genggaman tangan orang dewasa. Bilah ladiang telah mengalami oksidasi, ditandai dengan warna kehitaman dan permukaan yang tidak lagi halus. Bagian ujung yang melengkung memperlihatkan fungsi utamanya sebagai alat potong, terutama untuk menebas rumput, semak, atau batang tanaman kecil. Sementara itu, bagian pangkal bilah lebih tebal yang memudahkan pengguna untuk pekerjaan yang membutuhkan tekanan lebih besar. Gagangnya terbuat dari kayu dengan bentuk yang sedikit membulat dan membesar di bagian ujung, yang berfungsi sebagai penahan agar tidak mudah terlepas dari genggaman. Pada pertemuan antara gagang dan bilah terdapat cincin logam yang berfungsi sebagai penguat sambungan, mencegah keretakan pada kayu sekaligus menjaga kestabilan struktur alat. Dari segi pembuatan, ladiang ini dibuat melalui teknik tempa tradisional, di mana besi dipanaskan lalu dibentuk secara manual. Hal ini terlihat dari tekstur bilah yang tidak sepenuhnya rata. Gagang kayu dibentuk dengan teknik pahat sederhana, menyesuaikan kebutuhan pengguna. Dalam penggunaannya, ladiang berfungsi sebagai alat serbaguna. Ia tidak hanya digunakan untuk membersihkan lahan atau memotong tanaman, tetapi juga kerap dimanfaatkan dalam kegiatan rumah tangga, seperti memotong bahan makanan atau pekerjaan kasar lainnya. Keberadaannya mencerminkan pola hidup masyarakat agraris yang mengandalkan alat-alat praktis dan tahan lama.

Sejarah

Ladiang merupakan salah satu alat pertanian tradisional yang digunakan dalam aktivitas pertanian dan pekerjaan di ladang. Bentuknya sederhana, terdiri dari bilah besi memanjang dengan ujung sedikit melengkung. Bagian gagang terbuat dari kayu yang dirancang menyesuaikan genggaman tangan orang dewasa. Bilah ladiang telah mengalami oksidasi, ditandai dengan warna kehitaman dan permukaan yang tidak lagi halus. Bagian ujung yang melengkung memperlihatkan fungsi utamanya sebagai alat potong, terutama untuk menebas rumput, semak, atau batang tanaman kecil. Sementara itu, bagian pangkal bilah lebih tebal yang memudahkan pengguna untuk pekerjaan yang membutuhkan tekanan lebih besar. Gagangnya terbuat dari kayu dengan bentuk yang sedikit membulat dan membesar di bagian ujung, yang berfungsi sebagai penahan agar tidak mudah terlepas dari genggaman. Pada pertemuan antara gagang dan bilah terdapat cincin logam yang berfungsi sebagai penguat sambungan, mencegah keretakan pada kayu sekaligus menjaga kestabilan struktur alat. Dari segi pembuatan, ladiang ini dibuat melalui teknik tempa tradisional, di mana besi dipanaskan lalu dibentuk secara manual. Hal ini terlihat dari tekstur bilah yang tidak sepenuhnya rata. Gagang kayu dibentuk dengan teknik pahat sederhana, menyesuaikan kebutuhan pengguna. Dalam penggunaannya, ladiang berfungsi sebagai alat serbaguna. Ia tidak hanya digunakan untuk membersihkan lahan atau memotong tanaman, tetapi juga kerap dimanfaatkan dalam kegiatan rumah tangga, seperti memotong bahan makanan atau pekerjaan kasar lainnya. Keberadaannya mencerminkan pola hidup masyarakat agraris yang mengandalkan alat-alat praktis dan tahan lama.

Nomor inventarisasi :

03.212

Nomor Registrasi :

331

Tempat Pembuatan :

-

Status Cagar Budaya :

Bukan Cagar Budaya

Klasifikasi :

Etnografika

Kondisi Koleksi :

Utuh

Tanggal Registrasi:

26 Apr 2026

Cara Perolehan:

Pembelian

Keaslian:

Asli

Nomor Pendaftaran Nasional Musuem:

13.75.U.05.0009

Alamat Museum:

Jl. Cindua Mato No. 10

Galeri

Testimoni