DHAMMAR TOJU'
museum cakraningrat
Deskripsi
Terdiri dari 3 bagian, yakni bagian atas (wadah minyak), bagian tengah (batang/tiang), dan bagian bawah (dudukan/kaki). Tinggi keseluruhan 87 cm dengan wadah tempat minyak berbentuk mangkuk cawan kecil yang berfungsi sebagai menampung bahan bakar nabati. Dilengkapi dengan cerat kecil di bagian pinggir sebagai tempat bersandarnya sumbu kain dengan panjang 4 cm. Wadah ini dihiasi motif krawangan. Bagian tengah berfungsi sebagai pegangan dengan hiasan pelipit-pelipit, sedangkan bagian bawahnya berfungsi sebagai dudukan/ kaki dhammar yang memiliki struktur dudukan melingkar berbentuk segi lima bermotif tumpal yang di desain khusus agar lampu memiliki titik keseimbangan yang stabil.
Sejarah
Alat penerangan tradisional berupa lampu duduk khas masyarakat Madura yang memiliki nilai sejarah dan kebudayaan yang tinggi. Istilah ini berasal dari Bahasa Madura, di mana "dhammar" berarti lampu/pelita dan " toju' " berarti duduk. Masyarakat Madura di era klasik-kolonial sebelum listrik masuk ke wilayah Madura lebih mengandalkan alat penerangan model ini sebagai sumber cahaya utama di malam hari. Desain lampu duduk ini biasanya diletakkan di atas meja, lantai, atau area santai seperti Tanean Lanjhang (halaman rumah adat Madura). Material lampu duduk ini berasal dari peninggalan abad ke-18 hingga abad ke-19, umumnya terbuat dari logam kuningan. Pada awal penggunaannya lampu ini tidak menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakarnya. Melainkan memanfaatkan minyak nabati (seperti minyak jarak atau minyak kelapa) dengan sumbu kain murni.
Nomor inventarisasi :
024/CA/BKL/2025
Nomor Registrasi :
017/002/MUS/BKL/2025
Tempat Pembuatan :
Bangkalan
Status Cagar Budaya :
Bukan Cagar Budaya
Klasifikasi :
Etnografika
Kondisi Koleksi :
Utuh
Tanggal Registrasi:
14 Jul 2026
Cara Perolehan:
Warisan
Keaslian:
Asli
Nama Museum :
Nomor Pendaftaran Nasional Musuem:
35.26.K.04.0145
Alamat Museum:
Jl. Soekarno Hatta No.35