Canting
museum budaya kota pariaman
Deskripsi
Gagang canting biasanya terbuat dari kayu seperti bambu atau kayu ringan lainnya. Cucuk atau ujung logam terbuat dari tembaga, berfungsi sebagai tempat keluarnya malam cair. Penampung malam, bagian logam berbentuk seperti mangkuk kecil yang menampung malam panas sebelum dialirkan ke cucuk. Kawat kecil atau paku, sering digunakan untuk menyambung atau memperkuat sambungan antara gagang dan cucuk. Canting biasanya digunakan untuk menggambar motif batik dengan malam atau lilin panas di atas kain. Malam berfungsi sebagai penahan dalam proses pewarnaan, sehingga bagian yang tertutup malam tidak menyerap warna.
Sejarah
Canting berasa dari Jawa, khususnya daerah Yogyakarta dan Solo, yang merupakan pusat batik tulis klasik. Kata canting berasal dari bahasa Jawa, yang berarti alat untuk menulis atau melukis. Meski canting khas Indonesia, Teknik membatik dengan malam sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu di berbagai belahan dunia. Namun, canting sebagai alat khusus untuk membatik tulis adalah inovasi khas Nusantara, terutama berkembang di Jawa. Seni membatik sudah dikenal sejak zaman Majapahit, dan canting menjadi alat utama dalam membatik tulis. Pada abad ke-18 sampai ke-19 batik tulis berkembang pesat di Yogyakarta dan Solo, canting menjadi alat utama dalam menghasilkan motif klasik yang rumit. Pada tahun 1920-an muncul Teknik batik cap, tapi canting tetap digunakan untuk detail halus dan karya seni tingkat tinggi.
Nomor inventarisasi :
-
Nomor Registrasi :
40
Tempat Pembuatan :
-
Status Cagar Budaya :
Bukan Cagar Budaya
Klasifikasi :
Teknologi/Modern
Kondisi Koleksi :
Utuh
Tanggal Registrasi:
24 Jul 2025
Cara Perolehan:
Hibah
Keaslian:
Asli
Nama Museum :
Nomor Pendaftaran Nasional Musuem:
13.77.U.05.0375
Alamat Museum:
Jalan Syekh Burhanuddin, Kelurahan Karan Aur, Kecamatan Pariaman Tengah, Kota Pariaman, Provinsi Sumatera Barat, Kode Pos 25513