Sistem Registrasi Nasional Museum

Sistem Registrasi Nasional Museum adalah sistem pendataan terpadu museum yang berisi seluruh data Museum di Indonesia yang telah memiliki Nomor Pendaftaran Nasional Museum dan spesifikasinya.

Museum

Museum adalah lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi, dan mengkomunikasikanya kepada masyarakat.

Lihat Semua Museum

Koleksi

Koleksi Museum yang selanjutnya disebut Koleksi adalah Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan/atau Struktur Cagar Budaya dan/atau Bukan Cagar Budaya yang merupakan bukti material hasil budaya dan/atau material alam dan lingkungannya yang mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, kebudayaan, teknologi, dan/atau pariwisata.

Lihat Semua Koleksi

Pendaftaran Museum

Museum dapat didirikan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, Setiap Orang, atau Masyarakat Hukum Adat. Pendaftaran Museum harus didaftarkan pada Bupati, Wali Kota, Gubernur, Menteri sesuai dengan kewenangannya.

Langkah-Langkah Pendaftaran

Syarat Pendirian Museum

Memiliki Visi dan Misi

Memiliki Koleksi

Memiliki Lokasi atau Bangunan

Memiliki Sumber Daya Manusia

Memiliki Sumber Pendanaan Tetap

Memiliki Nama Museum

Berbadan Hukum Yayasan Bagi Museum Yang Didirikan oleh Setiap Orang atau Masyarakat Hukum Adat

Ayo Gabung dan Daftarkan Segera Museum Anda!

Unduh Formulir

Data Permuseuman

Rekapitulasi Data Museum yang telah memiliki Nomor Pendaftaran Nasional, Museum Terstandardisasi, dan Koleksi Museum

Museum

Museum yang telah memiliki nomor pendaftaran nasional

Museum Kota Juang Bireuen

Jln.Tgk. Pulo Kiton Lr.Hob Mubin No. 30

Pada tanggal 30 Maret 2021, MUSEUM KOTA JUANG BIREUEN diresmikan oleh Bupati Bireuen, yang bersamaan dengan dilangsungkan juga peluncuran dua buah buku yakni buku H. AbuBakar bin Ibrahim bin Salem Bey, Nek Haji Sang Maestro dan buku Para Tokoh Galeri Museum Kota Juang Bireuen 2021, yang kedua kegiatan tersebut berada dalam satu kompleksitas sejarah dan peran bagi Bireuen, yang hadir dari realisasi keberadaan nuansa naluri untuk berperan, kesetiakawanan dan toleransi, simpati dan empati terhadap sesamanya dalam harap menghadirkan masyarakat yang maju dan bermartabat, yang harmonis dan rukun, yang berada dalam bingkai etika moral dan kesantunan sebagai pemenuhan dari perjalanan sejarah panjang Bireuen dan menjadi catatan serta harapan untuk terus melangkah maju bagi kaum yang berfikir. Bireuen yang keberadaan geografisnya terletak diantara 04° 54' 00''-05^° 21' 00' LU- dan97° 20’00”BT, merupakan hasil pemekaran dari Aceh Utara pada Tanggal 12 Oktober 1999, berdasarkan pijakan hukum undang- undang No 48 Tahun 1999. Bireuen memiliki wilayah teritorial seluas 1.796,32 km 2 (1.79.632 Ha), ketinggian daratan 0-2637 Mdpl (meter diatas permukaan laut). Bireuen sebagai kabupaten yang sekarang terdiri dari 17 kecamatan, dengan kecamatan peudada sebagai kecamatan terluas dengan luas wilayah (312,84 km)2 atau sebesar 17,42% dari luas kabupaten Bireuen, sebagai kecamatan terkecil adalah kecamatan kota juang dengan luas hanya 16,91 km2’ dengan keberadaan populasi penduduk diatas 420.000 ribu pada akhir 2017.akhirnya memiliki museum perdana dalam upaya menghimpun catatan perjalanan peradabannya. Dilatar belakangi oleh sejarah seorang tokoh H.Abubakar bin Ibrahim bin Salim Bey, yang biografi kehidupannya termasuk dalam buku H.Abubakar bin Ibrahim bin Salim Bey, haji sang maestro, tampil selaku metro kehidupan dari pemilik genetik yang memiliki bibit, bobot dan bebetnya keberadaan janin, sehingga tampilnya jati diri yang bermakna bagi lainnya, yang telah melalui tempaan pendidikan pada kapasitas keberadaan ajaran keyakinan dan pengetahuan serta keberadaan lingkungan yakni situasi dan kondisi dari domisilinya sebuah kehidupan seorang manusia, maka menjadi layak kala para ahli warisnya, para putra-putri selaku dari cucu dari H.Ibrahim Salim Bey, dalam langkah bersama dengan Hj. Noor Balqis,S.psi selaku inisiatornya, mengaitkan dengan sebuah alasan konkrit dan mendirikan MUSEUM KOTA JUANG BIREUEN, dibawah keberadaan YAYASAN MUSEUM KOTA JUANG BIREUEN MUSEUM KOTA JUANG BIREUEN, berada dijalan hob Mubin No. 31, Gampong baro bireuen, dibangun diatas sebidang lahan, seluas 600m2, yang berada dalam sebuah lokasi sebagai makamnya H. Abubakar bin Ibrahim salim bey dan keluarganya, yang terdiri atas 2 bagunan utama, yakni berupa Rumoeh Tradisional Aceh dan duplikasi dari Meuligoe Bireuen yang terletak diantara empat makam keluarga besar Teungku H.Abu bakar bin Ibrahim bin salim bey, seorang putra kelahiran turki, yang menjalani hidupnya dengan masyarakat Bireuen secara utuh, sehingga beliau mampu berkarya untuk membangun peradaban Bireuen di masa itu bersama sahabat-sahabatnya sebagai masyarakat Bireuen Aceh kala itu, sesuatu yang sangat bersejarah sebagaimana yang telah ditulis dalam buku H. Abu Bakar bin Ibrahim bin Salem Bay, Nek Haji sang maestro, yang memiliki satu kesatuan visi-misi, yang seluruhnya diluncurkan secara bersamaan. Harapan utama atas keberadaan Museum Kota Juang Bireuen, diperuntukan sebagai sarana: Menghimpun jejak para tokoh yang telah berkarya untuk Bireuen, Aceh dan Indonesia, dilengkapi dengan lukisan dan catatan sejarah mereka, mulai dari para pejuang, ulama, pendidik, Budayawan, Pengusaha, Seniman,Olahragawan, dan siapapun yang telah merajut kemaslahatan bangsa dan negara pada masanya. Menghimpun barang atau peralatan yang menunjang kehidupan masyarakat yang pernah digunakan sehari-hari, yang kini mulai ditinggalkan dan patut dilestarikan, agar tidak punah dan terlupakan. Sebagai sarana pendidikan, pembelajaran dan penelitian baik pengajian sejarah masa lalu maupun tempat pengajian masyarakat sekitar Tempat rujukan objek wisata, sebagai situs sejarah yang menjadi alternatif untuk menggali peradaban masa lalu Berbagai tujuan positif lainnya yang mendukung gelar Bireuen sebagai Kota Juang, dengan harapan, museum ini merupakan pionir untuk melestarikan cagar budaya yang persembahkan untuk generasi mendatang. Dalam buku Para Tokoh Galeri Museum Kota Juang Bireuen 2021, termaktub uraian bahwa “museum” sebagai institusi permanen,nirlaba, melayani, kebutuhan publik, dengan sifat terbuka, dengan cara melakukan usaha pengkoleksian, mengkonservasi, dan memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan, penelitian, dan kesenangan juga karena Museum itu adalah bagian dari tempat rekreasi. Keberadaan museum Kota Juang Bireuen menjadi sangat penting mengingat museum tersebut tidak hanya memiliki fungsi sebagai pelindung benda cagar budaya, melainkan juga sebagai tempat pembentukan ideologi,disiplin dan pengembangan pengetahuan bagi publik.

Museum Universitas Gadjah Mada

Kompleks Perumahan Bulaksumur, Blok D-6 & D-7, Caturtunggal, Depok, Sleman, DIY.

UGM merupakan salah satu perguruan tinggi tertua di Indonesia yang dilahirkan dalam kancah Perjuangan Kemerdekaan. Universitas ini telah menghasilkan banyak karya dan tokoh penting dalam berbagai bidang. Untuk meneruskan nilai-nilai yang melatari dan dikembangkan, didirikanlah Museum UGM pada tahun 2012 dan diresmikan pada Dies Natalis UGM ke-64 tanggal 19 Desember 2013.

Museum MH. Thamrin

Jalan Kenari 2 No 15

Gedung Museum MH Thamrin diserahkan oleh Ibu Deetje Zubaedah (putri angkat MH Thamrin) kepada pemerintah DKI Jakarta untuk dijadikan museum

Museum Indonesia

Jl. Raya Taman Mini

Museum Indonesia merupakan salah satu museum yang ada di TMII berlokasi di samping Gedung Badan Pusat Pengelolaan Taman Mini "Indonesia Indah" dengan posisi menghadapa arah Selatan. Gedung bertingkat 3 yang sarat dengan patung-patung dan ukiran-ukiran bergaya arsitektur tradisional Hindu Bali yang telah dikembangkan dan dirancang oleh Ida Bagus Tugur, seorang arsitek, pelukis dan juga seorang dosen dari Universitas Udayana. Pembangunan Museum Indonesia diprakarsai oleh Almarhumah Ibu Siti Hartinah Soeharto atau Ibu Tien Soeharto di atas tanah seluas 20.100 m2 dan luas bangunan utama 7.000 m2. Waktu yang diperlukan untuk membangun museum ini kurang lebih 4 tahun lamanya dimulai sejak peletakan batu pertama pada tahun1976 hingga selesai pada tahun 1980. Museum Indonesia diresmikan oleh Bapak Presiden Soeharto pada tanggal 20 april 1980 bertepatan dengan ulang tahun TMII ke-5 dan sejak saat itu pula Museum Indonesia dibuka untuk umum. Tujuan dibangunnya Museum Indonesia adalah sebagai tempat penelitian ilmiah, pendidikan, pariwisata dan rekreasi. Museum adalah lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi dan mengomunikasikannya kepada masyarakat. Pembangunannya didasari oleh filosofi Tri Hita Kirana yang menjelaskan adanya 3 sumber kebahagiaan manusia yaitu hubungan manusia dengan sesama, manusia dengan lingkungan, dan manusia dengan Tuhan.

UPTD Museum Bali

Jl. Mayor Wisnu No. 1

Museum Bali merupakan museum umum yang pada awalnya merupakan museum etnografi yang didirikan oleh W.F.J. Kroon, asisten residen untuk Bali Selatan untuk melindungi dan melestarikan benda-benda budaya pada tahun 1910. Pemikiran ini atas dasar usulan dari Th.A. Resink dan mendapat sambutan yang baik dari kalangan ilmuwan, seniman, budayawan, dan seluruh raja-raja di Bali. Kroon kemudian memerintahkan Kurt Gundler, arsitek berkebangsaan Jerman yang sedang berada di Bali untuk meneliti agar membuat perencanaan bersama dengan para ahli bangunan tradisional Bali atau disebut undagi antara lain I Gusti Ketut Rai dan I Gusti Ketut Gede Kandel. Pembuatan bangunan tradisional juga menggunakan lontar asta kosala-kosali dan aspek keagamaan lainnya yang dijadikan sebagai pegangan utama oleh para undagi. Lain hal dengan Kurt Grundler selaku perencana bangunan modern mungkin lebih menekankan kepada kekuatan dan fungsi sebagai museum. Setelah pembangunan museum selesai, museum diresmikan pada tanggal 8 Desember 1932 dengan nama Bali Museum yang dikelola Yayasan Bali Museum. Bali Museum kemudian diambil alih oleh Pemerintah Daerah Provinsi Bali setelah Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Situasi yang masih menghadapi perang dengan NICA dan Jepang sehingga tanggal 5 Januari 1965 diserahkan kepada Pemerintah Pusat dibawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan selanjutnya berubah nama menjadi Museum Negeri Provinsi Bali.

Museum DR. Yap Prawirohusodo

Jl. Cik Ditiro No. 5A Yogyakarta

Museum ini diresmikan tahun 1997 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. Sebagian besar koleksi berhubungan dengan peralatan kedokteran mata, peralatan rumah tangga, foto, lukisan, buku, dan benda elektronik yang berjumlah lebih dari 900 buah. Museum ini menempati areal di lingkungan Rumah Sakit Mata Dr. Yap dengan luas tanah 246 m2. Rumah sakit Mata Dr. Yap didirikan oleh dr. Yap Hong Tjoen dan diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII pada tahun 1923. Awal mulanya pada tahun 1919 Yap Hong Tjoen lulus dari kuliah di Leiden, Belanda dan kembali ke tanah air. Angan-angan untuk mendirikan klinik mata semakin kuat setelah melihat banyaknya penderita penyakit mata dan kebutaan di Hindia-Belanda (Indonesia). Bermula dari mendirikan balai pengobatan mata di Gondolayu (sekarang menjadi kantor Pos Gondolayu), dengan jiwa sosialnya yang tinggi semua pasien mendapatkan hak yang sama. Dengan meningkatnya jumlah pasien, kemudian dengan dana pribadi dan bantuan dana dari berbagai pihak lain, dr. Yap Hong Tjoen mendirikan Rumah Sakit Mata Dr. Yap (dahulu bernama Prinses Juliana Gasthuis voor Oogglijders) . Kemudian pada tahun 1926 didirikanlah Balai Mardi Wuto untuk memberikan pendidikan dan keterampilan kepada tunanetra.

Etnografi telah terdaftar sebagai anggota Asosiasi Museum Daerah (AMIDA) Jawa Timur. Setelah mengalami revitalisasi, Museum Etnografi kembali diresmikan oleh Dr. Hilmar Farid selaku Direktur Jenderal Kebudayaan pada 21 Maret 2016 dengan mengangkat tema kematian. Tema tersebut dipilih karena kematian merupakan bagian dari siklus hidup yang pasti dialami manusia. Namun masih banyak orang yang menganggap jika kematian merupakan hal yang tabu. Oleh karena itu, museum ini diharapkan dapat menjadi pusat informasi dan pendidikan yang menarik, sehingga mempengaruhi keinginan untuk belajar.

Museum Pahlawan Nasional Jamin Gintings diresmikan pada tanggal 17 September 2013 oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro. Tujuan didirikan museum ini sebagai ikon dari desa tempat kelahiran Letnan Jenderal Jamin Gintings, yaitu Desa Suka. Selain itu diharapkan dapat menjadi wadah untuk melestarikan nilai-nilai perjuangan dan budaya

Museum Simalungun

Jalan Jendral Sudirman No.20

"Museum Simalungun merupakan museum umum yang dimulai pada bulan April 1939 dan selesai pada bulan Desember di tahun yang sama. Pembangunan museum didasarkan pada rapat Harungguan yang dilaksanakan tanggal 14 Januari 1937. Rapat ini dihadiri oleh tujuh orang Raja Simalungun, kepala distrik, tungkat, tokoh masyarakat, dan tokoh pemerintahan setempat. Hasil rapat tersebut ialah menyetujui didirikannya sebuah museum di Pematang Siantar yang bertujuan melestarikan budaya Batak Simalungun. Museum yang pada awalnya disebut Rumah Pusaka Simalungun diresmikan dengan menggunakan upacara adat Simalungun pada tanggal 30 April 1940. Museum dikelola oleh Yayasan Museum Simalungun yang didirikan pada tanggal 27 September 1954 sesuai dengan akta notaris nomor 13 tahun 1954. "

Museum Sri Serindit Natuna

JL. IMAM H. ISMAIL

Museum Sri Serindit Natuna merupakan museum umum yang diresmikan pada 23 Agustus 2008 oleh Bupati Natua, Drs. H. Daeng Rusnadi, M.Si. Museum ini berada di bawah kepemilikan Yayasan BP2SN dan dikelola oleh Bapak Zaharuddin.

MUSEUM LAMBUNG MANGKURAT

JL. A. YANI KM 35,5

Museum Negeri Provinsi Kalimantan Selatan “Lambung Mangkurat” merupakan museum yang pada awalnya bernama Museum Borneo. Museum Borneo didirikan oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1907. Setelah pemerintahan berganti menjadi Pemerintahan Jepang, museum juga turut berubah menjadi Museum Kalimantan, yang didirikan pada 22 Desember 1955. Pada tahun 1967 museum kembali berganti nama menjadi Museum Banjar. Sementara Museum Lambung Mangkurat mulai didirikan bertahap sejak 1974 dengan biaya DIP Proyek Pelita (Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Museum Kalimantan). Areal tanah museum merupakan sumbangan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan yang dikuatkan oleh SK. Walikota nomor 070/II-2-Pem/77 tanggal 27 Juni 1977 seluas 1,5 Ha. Museum ini diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Daoed Joesoef pada tanggal 10 Januari 1979.

Museum Perkebunan Indonesia

Jl. Brigjen Katamso No.53 (Komp.PPKS) Medan

"Museum Perkebunan Indonesia merupakan museum khusus yang didirikan atas inisiatif oleh seorang tokoh perkebunan Indonesia bernama Soedjai Kartasasmita. Museum ini diresmikan pada 10 Desember 2016 oleh Gubernur Sumatera Utara HT Erry Nuradi beserta Direktur Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian. Pengelolaan museum saat ini dilakukan oleh Yayasan Museum Perkebunan Indonesia. Museum Perkebunan Indonesia berisi sejarah dan perkembangan perkebunan di Indonesia yang dimulai sejak masa prakolonial. Museum ini berharap dapat menjadi penghubung antara masa lalu dan masa depan. Harapan tersebut dilakukan dengan cara membuat museum ini menarik untuk dikunjungi umum dan menjadi sumber informasi dan edukasi mengenai perkebunan di Indonesia "

Testimoni
Layanan Pengguna