Sistem Registrasi Nasional Museum
Sistem Registrasi Nasional Museum adalah sistem pendataan terpadu museum yang berisi seluruh data Museum di Indonesia yang telah memiliki Nomor Pendaftaran Nasional Museum dan spesifikasinya.
Syarat Pendirian Museum
Memiliki Visi dan Misi
Memiliki Koleksi
Memiliki Lokasi atau Bangunan
Memiliki Sumber Daya Manusia
Memiliki Sumber Pendanaan Tetap
Memiliki Nama Museum
Berbadan Hukum Yayasan Bagi Museum Yang Didirikan oleh Setiap Orang atau Masyarakat Hukum Adat
Ayo Gabung dan Daftarkan Segera Museum Anda!
Unduh FormulirData Permuseuman
Rekapitulasi Data Museum yang telah memiliki Nomor Pendaftaran Nasional, Museum Terstandardisasi, dan Koleksi Museum
Museum Kota Juang Bireuen
Jln.Tgk. Pulo Kiton Lr.Hob Mubin No. 30Pada tanggal 30 Maret 2021, MUSEUM KOTA JUANG BIREUEN diresmikan oleh Bupati Bireuen, yang bersamaan dengan dilangsungkan juga peluncuran dua buah buku yakni buku H. AbuBakar bin Ibrahim bin Salem Bey, Nek Haji Sang Maestro dan buku Para Tokoh Galeri Museum Kota Juang Bireuen 2021, yang kedua kegiatan tersebut berada dalam satu kompleksitas sejarah dan peran bagi Bireuen, yang hadir dari realisasi keberadaan nuansa naluri untuk berperan, kesetiakawanan dan toleransi, simpati dan empati terhadap sesamanya dalam harap menghadirkan masyarakat yang maju dan bermartabat, yang harmonis dan rukun, yang berada dalam bingkai etika moral dan kesantunan sebagai pemenuhan dari perjalanan sejarah panjang Bireuen dan menjadi catatan serta harapan untuk terus melangkah maju bagi kaum yang berfikir. Bireuen yang keberadaan geografisnya terletak diantara 04° 54' 00''-05^° 21' 00' LU- dan97° 20’00”BT, merupakan hasil pemekaran dari Aceh Utara pada Tanggal 12 Oktober 1999, berdasarkan pijakan hukum undang- undang No 48 Tahun 1999. Bireuen memiliki wilayah teritorial seluas 1.796,32 km 2 (1.79.632 Ha), ketinggian daratan 0-2637 Mdpl (meter diatas permukaan laut). Bireuen sebagai kabupaten yang sekarang terdiri dari 17 kecamatan, dengan kecamatan peudada sebagai kecamatan terluas dengan luas wilayah (312,84 km)2 atau sebesar 17,42% dari luas kabupaten Bireuen, sebagai kecamatan terkecil adalah kecamatan kota juang dengan luas hanya 16,91 km2’ dengan keberadaan populasi penduduk diatas 420.000 ribu pada akhir 2017.akhirnya memiliki museum perdana dalam upaya menghimpun catatan perjalanan peradabannya. Dilatar belakangi oleh sejarah seorang tokoh H.Abubakar bin Ibrahim bin Salim Bey, yang biografi kehidupannya termasuk dalam buku H.Abubakar bin Ibrahim bin Salim Bey, haji sang maestro, tampil selaku metro kehidupan dari pemilik genetik yang memiliki bibit, bobot dan bebetnya keberadaan janin, sehingga tampilnya jati diri yang bermakna bagi lainnya, yang telah melalui tempaan pendidikan pada kapasitas keberadaan ajaran keyakinan dan pengetahuan serta keberadaan lingkungan yakni situasi dan kondisi dari domisilinya sebuah kehidupan seorang manusia, maka menjadi layak kala para ahli warisnya, para putra-putri selaku dari cucu dari H.Ibrahim Salim Bey, dalam langkah bersama dengan Hj. Noor Balqis,S.psi selaku inisiatornya, mengaitkan dengan sebuah alasan konkrit dan mendirikan MUSEUM KOTA JUANG BIREUEN, dibawah keberadaan YAYASAN MUSEUM KOTA JUANG BIREUEN MUSEUM KOTA JUANG BIREUEN, berada dijalan hob Mubin No. 31, Gampong baro bireuen, dibangun diatas sebidang lahan, seluas 600m2, yang berada dalam sebuah lokasi sebagai makamnya H. Abubakar bin Ibrahim salim bey dan keluarganya, yang terdiri atas 2 bagunan utama, yakni berupa Rumoeh Tradisional Aceh dan duplikasi dari Meuligoe Bireuen yang terletak diantara empat makam keluarga besar Teungku H.Abu bakar bin Ibrahim bin salim bey, seorang putra kelahiran turki, yang menjalani hidupnya dengan masyarakat Bireuen secara utuh, sehingga beliau mampu berkarya untuk membangun peradaban Bireuen di masa itu bersama sahabat-sahabatnya sebagai masyarakat Bireuen Aceh kala itu, sesuatu yang sangat bersejarah sebagaimana yang telah ditulis dalam buku H. Abu Bakar bin Ibrahim bin Salem Bay, Nek Haji sang maestro, yang memiliki satu kesatuan visi-misi, yang seluruhnya diluncurkan secara bersamaan. Harapan utama atas keberadaan Museum Kota Juang Bireuen, diperuntukan sebagai sarana: Menghimpun jejak para tokoh yang telah berkarya untuk Bireuen, Aceh dan Indonesia, dilengkapi dengan lukisan dan catatan sejarah mereka, mulai dari para pejuang, ulama, pendidik, Budayawan, Pengusaha, Seniman,Olahragawan, dan siapapun yang telah merajut kemaslahatan bangsa dan negara pada masanya. Menghimpun barang atau peralatan yang menunjang kehidupan masyarakat yang pernah digunakan sehari-hari, yang kini mulai ditinggalkan dan patut dilestarikan, agar tidak punah dan terlupakan. Sebagai sarana pendidikan, pembelajaran dan penelitian baik pengajian sejarah masa lalu maupun tempat pengajian masyarakat sekitar Tempat rujukan objek wisata, sebagai situs sejarah yang menjadi alternatif untuk menggali peradaban masa lalu Berbagai tujuan positif lainnya yang mendukung gelar Bireuen sebagai Kota Juang, dengan harapan, museum ini merupakan pionir untuk melestarikan cagar budaya yang persembahkan untuk generasi mendatang. Dalam buku Para Tokoh Galeri Museum Kota Juang Bireuen 2021, termaktub uraian bahwa “museum” sebagai institusi permanen,nirlaba, melayani, kebutuhan publik, dengan sifat terbuka, dengan cara melakukan usaha pengkoleksian, mengkonservasi, dan memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan, penelitian, dan kesenangan juga karena Museum itu adalah bagian dari tempat rekreasi. Keberadaan museum Kota Juang Bireuen menjadi sangat penting mengingat museum tersebut tidak hanya memiliki fungsi sebagai pelindung benda cagar budaya, melainkan juga sebagai tempat pembentukan ideologi,disiplin dan pengembangan pengetahuan bagi publik.
Museum Wayang Banyumas
Jl. Budi Utomo No.1, Banyumas, Sudagaran, Kec. Banyumas, Kabupaten Banyumas, Jawa TengahMuseum Wayang Banyumas merupakan museum khusus yang diresmikan pada 31 Desember 1983 atas gagasan Bapak Soepardjo Roestam ( Gubernur Jawa Tengah ) dan para sesepuh Banyumas. Museum ini berada di kompleks pusat pemerintahan lama Kabupaten Banyumas. Gedung museum sebelumnya merupakan paseban (tempat beristirahat) bagi tamu Bupati. Museum ini menyimpan lukisan bangunan lama, seperti Pendopo Si Panji yang diambil dari dokumen Pangeran Banyumas bertahun 1925, Alun-alun dan Pendopo Si Panji ketika dipindahkan ke Purwokerto pada 1937, Gedung Karesidenan Banyumas yang dibangun pada 1843 menurut Babad Banyumas yang ditulis pada 25 OKtober 1898 oleh RA Wiriatmadja. Ada pula koleksi lukisan foto Gedung Perpoestakaan Rakyat Banyumas yang diambil pada tahun 1925, Gedung Kantor Pos Banyumas bertahun 1925, Gedung Penjara Belanda yang berada di sebelah Timur Alun-Alun Banyumas, dan Sekolah zaman Belanda yang sekarang menjadi gedung Puskesmas Banyumas. Koleksi lainnya berupa alat musik tradisional Banyumas yang disebut Calung. Koleksi unggulan museum ini adalah satu set wayang Banyumasan tempo dulu dan tokoh wayang yang menjadi ciri khas wayang gagrak banyumas. Saat ini museum berada di bawah pengelolaan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyumas.
Museum RA. Kartini Rembang
Jl. Jend. Gatot Subroto No. 08 RembangMuseum R.A. Kartini Rembang merupakan museum khusus yang didirikan pada 21 April 1967. Museum RA Kartini Rembang terletak di Jl. Gatot Subroto No.8, Rembang. Bangunan yang didominasi warna hijau putih ini menyimpan koleksi barang pribadi milik R.A. Kartini, seperti tempat tidur, bathub pribadi, tempat jamu, meja makan, mesin jahit, lesung, cermin rias dan juga meja untuk merawat bayi. Di sana juga terdapat ruang yang berisi berbagai karya dari pahlawan nasional itu, diantaranya adalah buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”, tulisan tangan surat-surat R.A. Kartini yang dikirimkan ke teman-temannya di luar negeri dan lukisan karyanya serta foto-foto dirinya beserta keluarga semasa ia hidup. Koleksi unggulan museum ini adalah tulisan Kartini “Kongso Adu Jago”.
Museum Pusaka Karo
Jl. Perwira No 1 Kota BerastagiMuseum Pusaka Karo merupakan museum umum yang didirikan atas gagasan seorang misionaris Belanda bernama Leonardus Joosten Edigius yang lebih dikenal sebagai Pastor Leo Joosten Ginting (bere-bere Sitepu). Diresmikan pada tanggal 9 Februari 2013 oleh Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya: Dr. Ahman Sya dan Uskup Agung Medan: Mgr. Anicetus Sinaga OFMCap. Museum ini dikelola oleh Yayasan Pusaka Karo yang berbasis di kota Berastagi, Kabupaten Karo - Sumatera Utara. Koleksi-koleksi yang dipamerkan di museum ini mayoritas adalah benda etnografika yang diperoleh secara hibah maupun dititipkan oleh masyarakat Karo itu sendiri..
Museum Al-Qur’an PTIQ
Jl. Batan 1/2 Lebak BulusMuseum Al-Qur’an “PTIQ” merupakan bagian dari Unit Lembaga yang ada di Institut PTIQ Jakarta. Didirikan pada 24 Juli 1971 M. / 29 Rajab 1391 H. Pengelolaan Museum Al-Qur’an, awalnya dikelola langsung dibawah koordinasi Badan Eksekutif Yayasan Pendidikan Al-Qur’an (YPA), dan sejak tahun 1988 diserahkan kepada Institut PTIQ Jakarta. Pendirian awal Museum Al-Qur’an dilakukan secara bertahap dan berawal dari koleksi pribadi pengurus dan pendiri Yayasan Pendidikan Al-Qur’an (YPA) yang berlokasi di Jalan Gunawarman No. 25 Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Secara formal Museum Al-Qur’an “PTIQ” diresmikan berbarengan dengan keberadaan Perpustakaan Institut PTIQ Jakarta setelah menempati gedung bantuan Pemerintah DKI Jakarta yang diresmikan oleh Wakil Presiden H. Adam Malik pada Sabtu, 19 Februari 1983 yang berlokasi di Jl. Batan I / 2 LebakBulus, Cilandak, Jakarta Selatan.
Museum Islam Samudra Pasai
Gampong Beuringen Kecamatan Samudera Kabupaten Aceh Utara Provinsi AcehMuseum Islam Samudra Pasai Kabupaten Aceh Utara merupakan museum khusus yang dibangun secara bertahap mulai tahun 2011 sampai dengan 2016 dengan Dana Otsus Kabupaten Aceh Utara. Luas tapakan bangunan ± 500 m2. Bangunan permanen ini berlantai dua dengan hiasan ornamen khas Samudra Pasai
Museum dan Pusat Kajian Etnografi Universitas Airlangga
Jalan Dharmawangsa DalamEtnografi telah terdaftar sebagai anggota Asosiasi Museum Daerah (AMIDA) Jawa Timur. Setelah mengalami revitalisasi, Museum Etnografi kembali diresmikan oleh Dr. Hilmar Farid selaku Direktur Jenderal Kebudayaan pada 21 Maret 2016 dengan mengangkat tema kematian. Tema tersebut dipilih karena kematian merupakan bagian dari siklus hidup yang pasti dialami manusia. Namun masih banyak orang yang menganggap jika kematian merupakan hal yang tabu. Oleh karena itu, museum ini diharapkan dapat menjadi pusat informasi dan pendidikan yang menarik, sehingga mempengaruhi keinginan untuk belajar.
Museum Pahlawan Nasional Jamin Gintings
Jl. Museum SukaMuseum Pahlawan Nasional Jamin Gintings diresmikan pada tanggal 17 September 2013 oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro. Tujuan didirikan museum ini sebagai ikon dari desa tempat kelahiran Letnan Jenderal Jamin Gintings, yaitu Desa Suka. Selain itu diharapkan dapat menjadi wadah untuk melestarikan nilai-nilai perjuangan dan budaya
Museum Simalungun
Jalan Jendral Sudirman No.20"Museum Simalungun merupakan museum umum yang dimulai pada bulan April 1939 dan selesai pada bulan Desember di tahun yang sama. Pembangunan museum didasarkan pada rapat Harungguan yang dilaksanakan tanggal 14 Januari 1937. Rapat ini dihadiri oleh tujuh orang Raja Simalungun, kepala distrik, tungkat, tokoh masyarakat, dan tokoh pemerintahan setempat. Hasil rapat tersebut ialah menyetujui didirikannya sebuah museum di Pematang Siantar yang bertujuan melestarikan budaya Batak Simalungun. Museum yang pada awalnya disebut Rumah Pusaka Simalungun diresmikan dengan menggunakan upacara adat Simalungun pada tanggal 30 April 1940. Museum dikelola oleh Yayasan Museum Simalungun yang didirikan pada tanggal 27 September 1954 sesuai dengan akta notaris nomor 13 tahun 1954. "
Museum Sri Serindit Natuna
JL. IMAM H. ISMAILMuseum Sri Serindit Natuna merupakan museum umum yang diresmikan pada 23 Agustus 2008 oleh Bupati Natua, Drs. H. Daeng Rusnadi, M.Si. Museum ini berada di bawah kepemilikan Yayasan BP2SN dan dikelola oleh Bapak Zaharuddin.
MUSEUM LAMBUNG MANGKURAT
JL. A. YANI KM 35,5Museum Negeri Provinsi Kalimantan Selatan “Lambung Mangkurat” merupakan museum yang pada awalnya bernama Museum Borneo. Museum Borneo didirikan oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1907. Setelah pemerintahan berganti menjadi Pemerintahan Jepang, museum juga turut berubah menjadi Museum Kalimantan, yang didirikan pada 22 Desember 1955. Pada tahun 1967 museum kembali berganti nama menjadi Museum Banjar. Sementara Museum Lambung Mangkurat mulai didirikan bertahap sejak 1974 dengan biaya DIP Proyek Pelita (Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Museum Kalimantan). Areal tanah museum merupakan sumbangan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan yang dikuatkan oleh SK. Walikota nomor 070/II-2-Pem/77 tanggal 27 Juni 1977 seluas 1,5 Ha. Museum ini diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Daoed Joesoef pada tanggal 10 Januari 1979.
Museum Perkebunan Indonesia
Jl. Brigjen Katamso No.53 (Komp.PPKS) Medan"Museum Perkebunan Indonesia merupakan museum khusus yang didirikan atas inisiatif oleh seorang tokoh perkebunan Indonesia bernama Soedjai Kartasasmita. Museum ini diresmikan pada 10 Desember 2016 oleh Gubernur Sumatera Utara HT Erry Nuradi beserta Direktur Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian. Pengelolaan museum saat ini dilakukan oleh Yayasan Museum Perkebunan Indonesia. Museum Perkebunan Indonesia berisi sejarah dan perkembangan perkebunan di Indonesia yang dimulai sejak masa prakolonial. Museum ini berharap dapat menjadi penghubung antara masa lalu dan masa depan. Harapan tersebut dilakukan dengan cara membuat museum ini menarik untuk dikunjungi umum dan menjadi sumber informasi dan edukasi mengenai perkebunan di Indonesia "