Sistem Registrasi Nasional Museum

Sistem Registrasi Nasional Museum adalah sistem pendataan terpadu museum yang berisi seluruh data Museum di Indonesia yang telah memiliki Nomor Pendaftaran Nasional Museum dan spesifikasinya.

Museum

Museum adalah lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi, dan mengkomunikasikanya kepada masyarakat.

Lihat Semua Museum

Koleksi

Koleksi Museum yang selanjutnya disebut Koleksi adalah Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan/atau Struktur Cagar Budaya dan/atau Bukan Cagar Budaya yang merupakan bukti material hasil budaya dan/atau material alam dan lingkungannya yang mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, kebudayaan, teknologi, dan/atau pariwisata.

Lihat Semua Koleksi

Pendaftaran Museum

Museum dapat didirikan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, Setiap Orang, atau Masyarakat Hukum Adat. Pendaftaran Museum harus didaftarkan pada Bupati, Wali Kota, Gubernur, Menteri sesuai dengan kewenangannya.

Langkah-Langkah Pendaftaran

Syarat Pendirian Museum

Memiliki Visi dan Misi

Memiliki Koleksi

Memiliki Lokasi atau Bangunan

Memiliki Sumber Daya Manusia

Memiliki Sumber Pendanaan Tetap

Memiliki Nama Museum

Berbadan Hukum Yayasan Bagi Museum Yang Didirikan oleh Setiap Orang atau Masyarakat Hukum Adat

Ayo Gabung dan Daftarkan Segera Museum Anda!

Unduh Formulir

Data Permuseuman

Rekapitulasi Data Museum yang telah memiliki Nomor Pendaftaran Nasional, Museum Terstandardisasi, dan Koleksi Museum

Museum

Museum yang telah memiliki nomor pendaftaran nasional

Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat

Jl. Museum No.1 RT 000 RW 000

Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat, yang didirikan pada tahun 1973 di kota Agats, ibukota kabupaten Asmat, Papua Selatan, memiliki akar sejarah yang kuat dalam usaha mempertahankan dan mempromosikan kebudayaan serta seni tradisional Asmat. Pendirian museum ini merupakan inisiatif misionaris Pastor Frank Trenkenschuh, OSC, yang dimulai pada tahun 1969. Tujuan utamanya adalah melestarikan kebudayaan Asmat, memberikan kontribusi ekonomi kepada masyarakat Asmat, dan mengenalkan warisan budaya mereka kepada dunia. Museum ini awalnya didirikan dengan koleksi dari para Misionaris Hati Kudus (MSC) dan Para Misionaris Ordo Salib Suci (OSC) yang telah aktif mengumpulkan artefak sejak 1959. Tambahan koleksi berasal dari Dr. Gunter Konrad dan Ursula Konrad, yang melakukan ekspedisi Heidelberg pertama ke Brazza pada tahun 1971. Bruder Mark, Uskup Alphonse Sowada, dan Pastor Trenkenschuh juga turut serta dalam mengumpulkan artefak. Tobias Schneebaum, kurator pertama Museum Asmat, juga membuat kontribusi signifikan dengan mengumpulkan sejumlah koleksi. Pastor Trenkenschuh memimpin upaya pendanaan museum dan proyeknya dengan tujuan utama menjaga identitas dan sejarah orang Asmat. Museum ini diharapkan menjadi pusat pendidikan dengan berbagai sarana, termasuk cerita, slide show, film, dan rekaman kaset dari berbagai daerah di Asmat. Pater Trenkenschuh tidak hanya merumuskan ide-ide ini tetapi juga menjadi pendorong utama di belakang keseluruhan proyek. Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat secara resmi dibuka pada 11 Agustus 1973, dimiliki dan dikelola oleh Keuskupan Agats-Asmat. Keunikan museum ini terletak pada lokasinya yang dekat dengan sumber koleksinya, menciptakan pengalaman yang unik bagi pengunjung untuk merasakan sejarah dan budaya Asmat secara langsung. Museum kemudian mengalami pembaruan, termasuk perpindahan lokasi, dan sejak saat itu dijalankan di bawah koordinasi Keuskupan Agats-Asmat. Pada 10 Oktober 2016, museum yang diperbarui diresmikan oleh Bupati Asmat, Elisa Kambu, dan diberkati oleh Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Antonio Guido Filipazzi. Dengan lebih dari 1.200 koleksi, Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat menjadi tempat yang mencerminkan kekayaan sejarah dan budaya Asmat. Koleksi tersebut melibatkan berbagai artefak, termasuk motor listrik yang digunakan oleh Presiden RI Joko Widodo selama kunjungannya ke Asmat pada April 2018 sebagai kunjungan pertama kali Presiden RI ke wilayah Asmat. Dengan demikian, Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat bukan hanya menjadi penjaga warisan budaya Asmat tetapi juga menjadi sarana penting untuk memperkenalkan kekayaan budaya Asmat kepada dunia.

Museum Budaya dan Sejarah Siak Balai Rungsri

Jl. Sultan Ismail, Kampung Dalam, Siak, Kab. Siak

Museum Budaya dan Sejarah Siak Balai Rung Sri merupakan museum umum yang menggunakan Bangunan Cagar Budaya Balai Kerapatan Tinggi Siak. Saat ini museum berada di bawah kepemilikan Pemerintah Kabupaten Siak dan dikelola oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Siak.

Museum Negeri Nusa Tenggara Barat

Jl. Panjitilar Negara No. 6

Museum Negeri Provinsi Nusa Tenggara Barat merupakan museum yang pembangunannya mulai dirintis sejak tahun 1976/1977 melalui Proyek Rehabilitasi dan perluasan Museum. Berdasarkan proyek tersebut berarti di dalamnya tersirat semacam pengakuan bahwa di Nusa Tenggara Barat telah ada museum yang perlu direhabilitasi dan diperluas. Namun didasari oleh keinginan dan tekad yang kuat serta didukung dengan persyaratan-persyaratan bagi pendirian sebuah Museum Negeri Provinsi, maka pada tahun 1976/1977 sampai dengan 1980-1981 pembangunan prasarana gedung museum satu persatu dilaksanakan sampai akhirnya terwujudlah Museum Tingkat Provinsi yang diberi nama Museum Negeri Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kelembagaan museum ini ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Mendikbud RI No. 022/0/1/1982 tanggal 21 Januari 1982. Peresmiannya dilaksanakan pada tanggal 23 Januari 1982 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Dr. Daoed Joesoef.

Museum Islam Indonesia K.H Hasyim Asy’ari

Tebuireng Gang IV, Dusun Tebuireng

Museum Islam Indonesia K.H. Hasyim Asy’ari berisi berbagai koleksi artefak sejarah perkembangan Islam di Indonesia dari periode awal kemunculannya di Nusantara hingga masa kini. Ide pendirian MINHA digagas oleh Gus Sholah, adik mendiang Gus Dur. Beliau tergugah oleh banyaknya pengunjung yang datang untuk berziarah ke makam Gus Dur. Museum yang bertujuan untuk menyajikan informasi terkait dengan Sejarah perkembangan agama Islam di Indonesia dan kontribusinya terhadap bangsa Indonesia ini diresmikan pada tanggal 19 Desember 2018 oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Joko Widodo.

Monumen Pers Nasional

Jl Gajah Mada 59

Pada 9 Februari 1971 Menpen Budiarjo menyatakan pendirian Museum Pers di Surakarta Tahun 1973 pada kongres di Tretes nama Museum Pers Nasional diubah menjadi Monumen Pers Nasional tanggal 9 Februari 1978 Presiden Soeharto meresmikan Monumen Pers Nasional yang saat itu pengelolanya adalah Yayasan Pengelola Sarana Pers Nasional.

Museum Maritim Indonesia

Jl. Raya Pelabuhan No. 9, Tanjung Priok, Jakarta Utara

Museum yang dimiliki oleh PT. Pelabuhan Indonesia II ini menempati bangunan cagar budaya yang terletak di dalam Pelabuhan Tanjung Priok. Sebelum dijadikan museum, bangunan difungsikan sebagai Kantor PT. Pelabuhan Indonesia II Cabang Tanjung Priok. Peresmian pertama (soft launching) Museum Maritim Indonesia dilaksanakan pada tanggal 7 Desember 2018 dan masih dalam tahap persiapan peresmian inti (grand launching) sampai saat ini. Saat ini, pengelolaan museum dilaksanakan oleh salah satu anak perusahaan PT. Pelabuhan Indonesia II yaitu PT. Pendidikan Maritim dan Logistik Indonesia.

Etnografi telah terdaftar sebagai anggota Asosiasi Museum Daerah (AMIDA) Jawa Timur. Setelah mengalami revitalisasi, Museum Etnografi kembali diresmikan oleh Dr. Hilmar Farid selaku Direktur Jenderal Kebudayaan pada 21 Maret 2016 dengan mengangkat tema kematian. Tema tersebut dipilih karena kematian merupakan bagian dari siklus hidup yang pasti dialami manusia. Namun masih banyak orang yang menganggap jika kematian merupakan hal yang tabu. Oleh karena itu, museum ini diharapkan dapat menjadi pusat informasi dan pendidikan yang menarik, sehingga mempengaruhi keinginan untuk belajar.

Museum Pahlawan Nasional Jamin Gintings diresmikan pada tanggal 17 September 2013 oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro. Tujuan didirikan museum ini sebagai ikon dari desa tempat kelahiran Letnan Jenderal Jamin Gintings, yaitu Desa Suka. Selain itu diharapkan dapat menjadi wadah untuk melestarikan nilai-nilai perjuangan dan budaya

Museum Simalungun

Jalan Jendral Sudirman No.20

"Museum Simalungun merupakan museum umum yang dimulai pada bulan April 1939 dan selesai pada bulan Desember di tahun yang sama. Pembangunan museum didasarkan pada rapat Harungguan yang dilaksanakan tanggal 14 Januari 1937. Rapat ini dihadiri oleh tujuh orang Raja Simalungun, kepala distrik, tungkat, tokoh masyarakat, dan tokoh pemerintahan setempat. Hasil rapat tersebut ialah menyetujui didirikannya sebuah museum di Pematang Siantar yang bertujuan melestarikan budaya Batak Simalungun. Museum yang pada awalnya disebut Rumah Pusaka Simalungun diresmikan dengan menggunakan upacara adat Simalungun pada tanggal 30 April 1940. Museum dikelola oleh Yayasan Museum Simalungun yang didirikan pada tanggal 27 September 1954 sesuai dengan akta notaris nomor 13 tahun 1954. "

Museum Sri Serindit Natuna

JL. IMAM H. ISMAIL

Museum Sri Serindit Natuna merupakan museum umum yang diresmikan pada 23 Agustus 2008 oleh Bupati Natua, Drs. H. Daeng Rusnadi, M.Si. Museum ini berada di bawah kepemilikan Yayasan BP2SN dan dikelola oleh Bapak Zaharuddin.

MUSEUM LAMBUNG MANGKURAT

JL. A. YANI KM 35,5

Museum Negeri Provinsi Kalimantan Selatan “Lambung Mangkurat” merupakan museum yang pada awalnya bernama Museum Borneo. Museum Borneo didirikan oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1907. Setelah pemerintahan berganti menjadi Pemerintahan Jepang, museum juga turut berubah menjadi Museum Kalimantan, yang didirikan pada 22 Desember 1955. Pada tahun 1967 museum kembali berganti nama menjadi Museum Banjar. Sementara Museum Lambung Mangkurat mulai didirikan bertahap sejak 1974 dengan biaya DIP Proyek Pelita (Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Museum Kalimantan). Areal tanah museum merupakan sumbangan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan yang dikuatkan oleh SK. Walikota nomor 070/II-2-Pem/77 tanggal 27 Juni 1977 seluas 1,5 Ha. Museum ini diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Daoed Joesoef pada tanggal 10 Januari 1979.

Museum Perkebunan Indonesia

Jl. Brigjen Katamso No.53 (Komp.PPKS) Medan

"Museum Perkebunan Indonesia merupakan museum khusus yang didirikan atas inisiatif oleh seorang tokoh perkebunan Indonesia bernama Soedjai Kartasasmita. Museum ini diresmikan pada 10 Desember 2016 oleh Gubernur Sumatera Utara HT Erry Nuradi beserta Direktur Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian. Pengelolaan museum saat ini dilakukan oleh Yayasan Museum Perkebunan Indonesia. Museum Perkebunan Indonesia berisi sejarah dan perkembangan perkebunan di Indonesia yang dimulai sejak masa prakolonial. Museum ini berharap dapat menjadi penghubung antara masa lalu dan masa depan. Harapan tersebut dilakukan dengan cara membuat museum ini menarik untuk dikunjungi umum dan menjadi sumber informasi dan edukasi mengenai perkebunan di Indonesia "

Testimoni
Layanan Pengguna