Sistem Registrasi Nasional Museum

Sistem Registrasi Nasional Museum adalah sistem pendataan terpadu museum yang berisi seluruh data Museum di Indonesia yang telah memiliki Nomor Pendaftaran Nasional Museum dan spesifikasinya.

Museum

Museum adalah lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi, dan mengkomunikasikanya kepada masyarakat.

Lihat Semua Museum

Koleksi

Koleksi Museum yang selanjutnya disebut Koleksi adalah Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan/atau Struktur Cagar Budaya dan/atau Bukan Cagar Budaya yang merupakan bukti material hasil budaya dan/atau material alam dan lingkungannya yang mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, kebudayaan, teknologi, dan/atau pariwisata.

Lihat Semua Koleksi

Pendaftaran Museum

Museum dapat didirikan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, Setiap Orang, atau Masyarakat Hukum Adat. Pendaftaran Museum harus didaftarkan pada Bupati, Wali Kota, Gubernur, Menteri sesuai dengan kewenangannya.

Langkah-Langkah Pendaftaran

Syarat Pendirian Museum

Memiliki Visi dan Misi

Memiliki Koleksi

Memiliki Lokasi atau Bangunan

Memiliki Sumber Daya Manusia

Memiliki Sumber Pendanaan Tetap

Memiliki Nama Museum

Berbadan Hukum Yayasan Bagi Museum Yang Didirikan oleh Setiap Orang atau Masyarakat Hukum Adat

Ayo Gabung dan Daftarkan Segera Museum Anda!

Unduh Formulir

Data Permuseuman

Rekapitulasi Data Museum yang telah memiliki Nomor Pendaftaran Nasional, Museum Terstandardisasi, dan Koleksi Museum

Museum

Museum yang telah memiliki nomor pendaftaran nasional

UPTD Museum Negeri Sumatera Selatan

Jl. Srijaya I, No. 288 KM. 5,5

Museum Negeri Sumatera Selatan yang diresmikan pada tanggal 5 November 1984. Nama museum diambil dari nama salah seorang Raja Sriwijaya yang pernah berkuasa pada abad ke-9 Masehi. Pengembangan bentuk fisik museum ini dilaksanakan pada tahun anggaran 1997/1998. Pada awalnya museum ini membawahi satu museum, seiring berkembangnya museum, saat ini Museum Negeri Sumatera Selatan membawahi dua museum, yaitu Museum Negeri Sumatera Selatan atau Museum Balaputradewa dan Museum Tekstil

Museum Sejarah Jakarta

Jl. Taman Fatahillah No.1 Kel. Pinangsia, Kec. Tamansari, Kota Administrasi Jakarta Barat

Museum Sejarah Jakarta adalah sebuah museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 1, Jakarta Barat. Bangunan ini dahulu merupakan Balai Kota Batavia (bahasa Belanda: Stadhuis van Batavia) yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jenderal Joan van Hoorn. Bangunan ini menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara. Tanggal 10 Juli 1710 bangunan gedung Balai Kota ini diresmikan oleh Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck sesuai dengan Prasasti yang ada di Museum Sejarah Jakarta. Pada awal berdirinya, gedung ini berfungsi sebagai“ StadHuis” ( Balai Kota ) dan “ Raad Van Justitie ” ( Dewan Pengadilan ). Pada tahun 1925 sampai dengan 1942 gedung ini digunakan sebagai kantor Provinsi Jawa Barat, tahun 1942 sampai dengan 1945 digunakan sebagai markas Dainipon, setelah kemerdekan 1945 sampai dengan 1963 digunakan sebagai kantor Gubernur Jawa Barat dan pada tahun 1964 digunakan markas TNI KODIM 0503 Jakarta Barat. Pada tahun 1972 diserahkan kepada pemerintah DKI yang kemudian diperbaiki dan digunakan sebagai Museum Sejarah Jakarta yang diresmikan oleh Gubernur DKI Bapak Ali Sadikin, pada tanggal 30 Maret 1974.

Museum Wayang Banyumas

Jl. Budi Utomo No.1, Banyumas, Sudagaran, Kec. Banyumas, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah

Museum Wayang Banyumas merupakan museum khusus yang diresmikan pada 31 Desember 1983 atas gagasan Bapak Soepardjo Roestam dan para sesepuh Banyumas. Museum ini berada di kompleks pusat pemerintahan lama Kabupaten Banyumas. Gedung museum sebelumnya merupakan paseban (tempat pertemuan) bagi tamu Bupati. Museum ini menyimpan lukisan bangunan lama, seperti Pendopo Si Panji yang diambil dari dokumen Pangeran Banyumas bertahun 1925, Alun-alun dan Pendopo Si Panji ketika dipindahkan ke Purwokerto pada 1937, Gedung Karesidenan Banyumas yang dibangun pada 1843 menurut Babad Banyumas yang ditulis pada 25 OKtober 1898 oleh RA Wiriatmadja. Ada pula koleksi lukisan foto Gedung Perpoestakaan Rakyat Banyumas yang diambil pada tahun 1925, Gedung Kantor Pos Banyumas bertahun 1925, Gedung Penjara Belanda yang berada di sebelah Timur Alun-Alun Banyumas, dan Sekolah zaman Belanda yang sekarang menjadi gedung SMK Negeri 3 Banyumas. Koleksi lainnya berupa alat musik tradisional Banyumas yang disebut Calung. Koleksi unggulan museum ini adalah satu set wayang Kidang Kencana yang dibuat oleh Sultan Hadiwijaya. Saat ini museum berada di bawah pengelolaan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyumas.

Museum Karaeng Pattingalloang

Kawasan Benteng Somba Opu

Museum Karaeng Pattingaloang merupakan museum yang didirikan pada tahun 1989 dan diresmikan pada 1995. Nama museum diambil dari nama Perdana Menteri Kerajaan Tallo periode 1641-1654. Ia terkenal sebagai seorang intelektual dan memiliki ketertarikan yang besar terhadap ilmu pengetahuan pada masa itu. Museum ini dibangun untuk mengenang riwayat hidupnya. Museum ini berada pada area bangunan Benteng Somba Opu peninggalan Kesultanan Gowa Raja Gowa ke-IX, Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi’ Kallona.

Museum Angkut

Jl. Terusan Sultan Agung No. 2

Untuk lebih memperkuat Visi-Misi dan Slogan-slogan yang dimiliki dan dipegang oleh Grup Jawa Timur Park serta keinginan memenuhi kebutuhan masyarakat luas, serta ikut andil dalam memajukan bangsa, maka grup ini tak henti-hentinya terus berupaya mencari, menemukan, melakukan terobosan-2 guna menambah lagi kawasan-kawasan wisata/rekreasi yang ceria-sehat-bermanfaat, serta pembelajaran/pendidikan pengetahuan (Science) unggulan berkelas international yang benar-benar prestisius ! Berkaitan dengan itu semua maka Grup Jawa Timur Park bermaksud membangun sebuah MUSEUM/GALERY/KEPUSTAKAAN TRANSPORTASI INDONESIA. (Tentang nama yang paling tepat untuk wahana itu akan diputuskan dan ditetapkan lebih lanjut oleh manajemen puncak Grup ini). Arti Museum pasti tidak luput dari bentuk barang atau Sejarah masa lampau dan pembelajaran. Arti Galery tentunya wahana Pameran yang lebih luas serta juga memberi manfaat pembelajaran. Demikian pula arti Kepustakaan penuh dengan nuansa pameran serta ensiklopedi pembelajaran. (terakhir nama yang ditetapkan oleh manajemen puncak adalah MUSEUM ANGKUT + atau dieja dengan MUSEUM ANGKUT PLUS).

Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja

Jl. Purbalingga - Klampok No.142, Purbalingga, Purbalingga Lor, Kec. Purbalingga, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah

Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja merupakan museum umum pertama milik Pemerintah Daerah Kabupaten Purbalingga. Berdiri atas prakarsa Bupati Purbalingga periode 2000 - 2010, Drs. Triyono Budi Sasongko, M.Si. Gagasan pendirian museum ini didasari oleh banyaknya temuan artefak yang perlu dilestarikan. Museum resmi dibuka untuk umum pada 24 April 2003 oleh Gubernur Jawa Tengah, Drs. H. Mardiyanto. Nama museum diambil dari tokoh kelahiran Desa Prigi, Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga yaitu Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja. Sejarah berkariernya di bidang pendidikan tanah air telah dimulai sejak 1921 hingga akhir hidupnya pada tahun 1984. Dikenal sebagai pendiri dan rektor pertama Universitas Cendrawasih di Papua. Dengan falsafah hidup ksatria Jawa yang dianggap sembada atau paripurna apabila telah memiliki wisma, turangga, wanita, kukila, curiga / pusaka, Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja mencoba mengingatkan kembali akar budaya dan sejarah masyarakat Purbalingga agar dapat terus bersinergi dengan arus jaman. Koleksi terdiri dari berbagai jenis. Diantaranya : koleksi arkeologika perbengkelan gelang batu, koleksi memorabilia Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja, koleksi memorabilia Bupati era pra kemerdekaan, koleksi keramologika, etnografika hingga Wayang Suket Mbah Gepuk yang telah mendapat status Warisan Budaya TakBenda (WBTB) pada tahun 2020.

Etnografi telah terdaftar sebagai anggota Asosiasi Museum Daerah (AMIDA) Jawa Timur. Setelah mengalami revitalisasi, Museum Etnografi kembali diresmikan oleh Dr. Hilmar Farid selaku Direktur Jenderal Kebudayaan pada 21 Maret 2016 dengan mengangkat tema kematian. Tema tersebut dipilih karena kematian merupakan bagian dari siklus hidup yang pasti dialami manusia. Namun masih banyak orang yang menganggap jika kematian merupakan hal yang tabu. Oleh karena itu, museum ini diharapkan dapat menjadi pusat informasi dan pendidikan yang menarik, sehingga mempengaruhi keinginan untuk belajar.

Museum Pahlawan Nasional Jamin Gintings diresmikan pada tanggal 17 September 2013 oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro. Tujuan didirikan museum ini sebagai ikon dari desa tempat kelahiran Letnan Jenderal Jamin Gintings, yaitu Desa Suka. Selain itu diharapkan dapat menjadi wadah untuk melestarikan nilai-nilai perjuangan dan budaya

Museum Simalungun

Jalan Jendral Sudirman No.20

"Museum Simalungun merupakan museum umum yang dimulai pada bulan April 1939 dan selesai pada bulan Desember di tahun yang sama. Pembangunan museum didasarkan pada rapat Harungguan yang dilaksanakan tanggal 14 Januari 1937. Rapat ini dihadiri oleh tujuh orang Raja Simalungun, kepala distrik, tungkat, tokoh masyarakat, dan tokoh pemerintahan setempat. Hasil rapat tersebut ialah menyetujui didirikannya sebuah museum di Pematang Siantar yang bertujuan melestarikan budaya Batak Simalungun. Museum yang pada awalnya disebut Rumah Pusaka Simalungun diresmikan dengan menggunakan upacara adat Simalungun pada tanggal 30 April 1940. Museum dikelola oleh Yayasan Museum Simalungun yang didirikan pada tanggal 27 September 1954 sesuai dengan akta notaris nomor 13 tahun 1954. "

Museum Sri Serindit Natuna

JL. IMAM H. ISMAIL

Museum Sri Serindit Natuna merupakan museum umum yang diresmikan pada 23 Agustus 2008 oleh Bupati Natua, Drs. H. Daeng Rusnadi, M.Si. Museum ini berada di bawah kepemilikan Yayasan BP2SN dan dikelola oleh Bapak Zaharuddin.

MUSEUM LAMBUNG MANGKURAT

JL. A. YANI KM 35,5

Museum Negeri Provinsi Kalimantan Selatan “Lambung Mangkurat” merupakan museum yang pada awalnya bernama Museum Borneo. Museum Borneo didirikan oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1907. Setelah pemerintahan berganti menjadi Pemerintahan Jepang, museum juga turut berubah menjadi Museum Kalimantan, yang didirikan pada 22 Desember 1955. Pada tahun 1967 museum kembali berganti nama menjadi Museum Banjar. Sementara Museum Lambung Mangkurat mulai didirikan bertahap sejak 1974 dengan biaya DIP Proyek Pelita (Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Museum Kalimantan). Areal tanah museum merupakan sumbangan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan yang dikuatkan oleh SK. Walikota nomor 070/II-2-Pem/77 tanggal 27 Juni 1977 seluas 1,5 Ha. Museum ini diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Daoed Joesoef pada tanggal 10 Januari 1979.

Museum Perkebunan Indonesia

Jl. Brigjen Katamso No.53 (Komp.PPKS) Medan

"Museum Perkebunan Indonesia merupakan museum khusus yang didirikan atas inisiatif oleh seorang tokoh perkebunan Indonesia bernama Soedjai Kartasasmita. Museum ini diresmikan pada 10 Desember 2016 oleh Gubernur Sumatera Utara HT Erry Nuradi beserta Direktur Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian. Pengelolaan museum saat ini dilakukan oleh Yayasan Museum Perkebunan Indonesia. Museum Perkebunan Indonesia berisi sejarah dan perkembangan perkebunan di Indonesia yang dimulai sejak masa prakolonial. Museum ini berharap dapat menjadi penghubung antara masa lalu dan masa depan. Harapan tersebut dilakukan dengan cara membuat museum ini menarik untuk dikunjungi umum dan menjadi sumber informasi dan edukasi mengenai perkebunan di Indonesia "

Testimoni
Layanan Pengguna